Fragmentasi Hadis dan Kematian Konteks dalam Ekosistem Digital

Pada akhirnya, algoritma bukan lagi tentang otoritas keilmuan, namun berdasarkan kreativitas dan ilmu memahami sistem kerja algoritma.3 min


Sumber: AI Generated

Ekosistem media sosial kontemporer—khususnya platform seperti tiktok dan instagram reels—saat ini dikuasai oleh format video pendek. Batasan durasi ini, yang mulanya dirancang untuk meningkatkan retensi, secara tidak terelakkan memaksa para pembuat konten untuk memadatkan informasi agama, termasuk hadis, ke dalam klip yang sangat ringkas. Fenomena ini mencerminkan apa yang disebut oleh Stig Hjarvard sebagai mediatisasi agama, di mana logika media yaitu durasi, format, dan algoritma mulai mendikte bagaimana materi keagamaan disajikan dan dipahami (Hjarvard, 2011).

Hadis sebagai bagian dari tradisi Islam yang kaya dan berlapis, sering kali memerlukan penjelasan konteks (asbāb wurūd al-hadīṡ), latar belakang sosial-historis, dan kerangka hukum untuk dipahami dengan benar. Durasi yang terbatas menjadikan penjelasan mendalam ini mustahil, atau paling tidak terpinggirkan. Dalam kajian literasi digital Islam, hal ini menyebabkan reduksi ontologis di mana kedalaman teks suci dikorbankan demi snackable content atau konten yang mudah dikonsumsi dengan durasi yang relatif singkat.

Untuk bersaing dalam algoritma yang memprioritaskan keterlibatan cepat (seperti jumlah like dalam tiga detik pertama), penyajian hadis harus bersifat segera, menarik, dan sensasional. Ini menempatkan nilai estetika visual dan dampak emosional di atas nilai validitas sanad atau kedalaman makna.

Praktik Cherry-Picking dalam Ekosistem Digital Modern

Pembatasan durasi dalam format video pendek secara langsung mendorong praktik cherry-picking, sebuah metode di mana teks hadis dipotong atau dipilah secara selektif untuk menyampaikan pesan yang powerfull atau provokatif, terlepas dari keseluruhan narasi atau konteksnya. Dalam studi agama digital, fenomena ini disebut sebagai fragmentasi tekstual, di mana kesatuan organik dari sebuah dalil syar’i dipecah menjadi unit-unit informasi yang berdiri sendiri demi konsumsi cepat (Gary R., 2018).

Praktik ini merupakan tantangan serius terhadap otoritas keilmuan hadis yang selama berabad-abad menjaga integritas teks melalui disiplin ilmu mustalaḥ al-ḥadīṡ. Dengan memisahkan hadis dari bagian awalnya (sabab al-wurūd), atau dari hadis-hadis lain yang berfungsi sebagai takhṣīṣ (pengkhususan) dan taqyīd (pembatasan), narasi keagamaan dapat di-framing ulang secara drastis. Sebuah pernyataan Nabi saw. yang dalam konteks aslinya adalah teguran spesifik kasuistik (qaḍiyah al-a’yān) dapat diubah secara paksa menjadi dogma universal yang kaku atau bahkan ekstrem.

Lebih jauh lagi, ekosistem digital memperparah situasi ini melalui cara kerja algoritmanya. Algoritma media sosial dirancang untuk memviralkan konten yang memicu reaksi afektif kuat, baik itu kekaguman yang berlebihan maupun kemarahan. Oleh karena itu, bagian hadis yang paling kontroversial, menghakimi, atau menakutkan -bahkan jika hadis tersebut berderajat ḍa‘īf (lemah) atau mauḍū‘ (palsu)—akan lebih sering dipilih oleh kreator konten. Hadis-hadis bernada eskatologis (tentang kiamat atau siksa kubur) yang disajikan dengan visual dramatis lebih mungkin muncul di halaman For You Page (FYP) pengguna dibandingkan kajian Ṣahīḥ Bukhāri yang rinci, analitis, namun dianggap kering dan membosankan.

Dalam sistem ini, agama terkomodifikasi menjadi produk data. Nilai sebuah hadis tidak lagi diukur dari validitas sanadnya (apakah perawinya dhabit dan adil), melainkan dari kemampuannya menghasilkan engagement (tanda suka, komentar, dan bagikan). Logika media sosial ini menekan para pendakwah untuk mengemas pesan agama mengikuti selera pasar digital, yang sering kali mengorbankan kedalaman demi popularitas. Akibatnya, pengguna media sosial terpapar pada mosaik hadis yang tidak utuh, yang membentuk pemahaman keagamaan yang parsial dan rawan bias.

Misinterpretasi Hadis dalam Konteks Digital

Contoh paling nyata dari fenomena hilangnya konteks adalah penyebaran hadis-hadis tentang gender, khususnya yang berkaitan dengan perempuan. Hadis tentang perempuan penghuni neraka seringkali diviralkan dalam klip pendek tanpa disertai penjelasan kritis mengenai konteks sosial dan sebab-sebab spesifik keluarnya hadis tersebut pada masa Nabi Muhammad saw. Penjelasan konteks tersebut penting untuk membedakan antara ajaran universal dan respons situasional (Alimatul, 2019).

Akibat pemotongan ini, terjadi misinterpretasi masif di kolom komentar dan perdebatan daring. Hadis tersebut ditafsirkan sebagai penghukuman mutlak dan abadi terhadap kaum perempuan, alih-alih sebagai peringatan moral dalam konteks dakwah saat itu. Hal ini menciptakan distorsi dalam pemahaman agama. Konten yang dipotong dan disajikan dengan visual atau musik yang menyentuh hati cenderung lebih dipercaya oleh netizen daripada kajian mendalam dari ulama di mimbar. Pada akhirnya, algoritma bukan lagi tentang otoritas keilmuan, namun berdasarkan kreativitas dan ilmu memahami sistem kerja algoritma (Nisa, 2018).

Erosi Otoritas dan Polarisasi sebagai Konsekuensi Digital

Fragmentasi hadis dan hilangnya konteks membawa konsekuensi yang merusak pada lanskap keagamaan digital. Secara tradisional, struktur otoritas dalam Islam bersifat hierarkis dan berbasis pada transmisi ilmu yang ketat (sanad), di mana ulama berfungsi sebagai penjamin validitas dan keutuhan konteks hadis. Namun, dalam ekosistem digital, peran ini terdisrupsi oleh apa yang didefinisikan oleh Heidi Campbell sebagai algorithmic authority atau otoritas algoritmik (Heidi A., 2013).

Campbell menjelaskan bahwa algoritma kini bertindak sebagai gatekeeper baru yang menentukan kebenaran agama bukan berdasarkan kredibilitas teologis atau integritas perawi, melainkan berdasarkan logika komputasi yang mengutamakan engagement atau keterlibatan pengguna (Heidi A., 2013). Dalam kerangka ini, sebuah hadis dianggap sah dan layak disebarkan bukan karena sanadnya bersambung kepada Nabi, melainkan karena ia memenuhi metrik viralitas platform, yaitu mendapat ribuan like, share, dan komentar dalam waktu singkat. Akibatnya, kepercayaan publik perlahan bergeser dari kepercayaan terhadap institusi keulamaan menjadi kepercayaan terhadap apa yang disajikan oleh mesin pencari dan rekomendasi media sosial yang seringkali bias terhadap konten sensasional.

Konsumsi hadis secara terfragmentasi memungkinkan pengguna untuk membangun identitas agama parsial berdasarkan klip-klip yang sesuai dengan pandangan pribadi mereka, mengabaikan kerangka Islam yang lebih komprehensif dan kontekstual. Fenomena ini memperkuat pandangan yang ekstrem dan menyebabkan polarisasi yang lebih tajam antara kelompok-kelompok Muslim dengan penafsiran yang berbeda.

Dalam era digital, tantangan terbesar bagi validitas dan otoritas hadis bukan lagi soal apakah perawi itu dhabit (kuat hafalannya), melainkan apakah konten tersebut mampu melewati tiga detik pertama di FYP. Fragmentasi yang dipaksakan oleh batasan durasi platform telah menyebabkan kematian konteks, menggantikan pemahaman yang utuh dan kritis dengan potongan-potongan sensasional yang, meskipun viral, dapat menyesatkan dan mendistorsi ajaran fundamental. Pengguna didorong menjadi konsumen Hadis, bukan pembelajar, di mana otoritas diletakkan pada visual dan emosi, bukan pada keilmuan dan sanad.

Daftar Pustaka 

Alimatul, Q. (2019). Feminisme Muslim di Indonesia. Suara Muhammadiyah.

Gary R., B. (2018). Hashtag Islam: How Cyber-Islamic Environments Are Transforming Religious Authority. University of North Carolina Press.

Heidi A., C. (2013). Digital Religion: Understanding Religious Practice in New Media Worlds. Routledge.

Hjarvard, S. (2011). Culture and Religion : An The mediatisation of religion : Theorising religion , media and social change. January 2013, 37–41. https://doi.org/10.1080/14755610.2011.579719

Nisa, E. F. (2018). Creative and Lucrative Daʿwa : The Visual Culture of Instagram amongst Female Muslim Youth in Indonesia. Asiascape: Digital Asia 5, 5, 68–99. https://doi.org/10.1163/22142312-12340085


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals