Pentingnya Yakin dan Tawakal Kepada Allah Swt

Yakin dan tawakal merupakan pembahasan yang sangat penting bagi umat Muslim, karena ia adalah pondasi Agama yang tidak boleh diragukan sedikit pun.


Pembahasan mengenai yakin dan tawakal merupakan pembahasan yang sangat penting bagi umat Muslim, karena yakin dan tawakkal ini adalah pondasi agama yang tidak boleh diikuti dengan keraguan sedikit pun, dan juga memiliki hubungan yang erat dengan keimanan seorang hamba.

Tanpa keyakinan yang kuat akan kehadiran Allah Swt di dalam jiwa kita, maka keimanan kita dapat diragukan, sebab makna Iman secara bahasa yaitu “At-Tashdiq” (membenarkan). Sedangkan secara Istilah adalah meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan perbuatan.

Kita harus meyakini bahwa segala sesuatu yang telah Allah sebutkan di dalam Al-Qur’an yang kemudian dirincikan oleh Nabi Muhammad saw dalam sunnah-nya adalah benar, dan itu adalah pondasi yang tidak boleh digoyahkan.

Adapun makna tawakal adalah menyerahkan perkara setelah kita berusaha. Jadi, kita harus yakin dengan apapun yang telah Allah Swt sampaikan kepada rasulnya, lalu diikuti dengan menyerahkan segala perkara yang telah kita lakukan atau Ikhtiarkan kepada Allah Swt.

Allah Swt berfirman dalam surat Al-Anfal ayat 2 yang berarti: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya)  dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakal".

Baca juga: Kepribadian Muttaqin

Dalam memahami pengertian tawakal, banyak sekali orang yang salah dalam memahaminya. Ada yang berpendapat, bahwa tawakal ialah menyerah bulat-bulat kepada Tuhan tanpa berbuat daya-upaya dan usaha untuk mendapatkannya. Ringkasnya enggan berikhtiar.

Namun anehnya ia malah meminta yang enak-enak belaka. Orang semacam di atas itu rupanya berpendapat, bahwa tidak perlu ia belajar, jika Tuhan menghendaki ia menjadi pintar, tentu pintar juga nantinya. Atau ketika sakit, tidak perlu ia berobat, jika Tuhan menghendaki sembuh tentu sehat kembali pula.

Semua itu sama seperti halnya orang yang sedang lapar, walaupun berbagai macam makanan di hadapan mukanya, tetapi ia berpendapat, jika Tuhan menghendaki kenyang, tanpa makan pun akan menjadi kenyang juga. Cara berfikir semacam itu, apabila diterus-teruskan, pasti akan membuat kesengsaraan diri sendiri, bahkan merusak akalnya sendiri.

Adapun maksud tawakal yang diperintahkan oleh agama itu ialah menyerahkan diri kepada Allah sesudah berusaha atau berikhtiar serta bekerja sebagaimana mestinya. Contohnya meletakkan sepeda di muka rumah, setelah dikunci baik-baik, lalu bertawakkal.

Artinya apabila setelah dikunci itu masih juga hilang misalnya dicuri orang, maka dalam pandangan agama Islam orang itu sudah tidak bersalah, sebab telah melakukan ikhtiar supaya jangan sampai hilang.

Singkatnya tawakal tanpa dibarengi usaha dan Ikhtiar lebih dulu adalah salah dan kekeliruan menurut pandangan Islam.

Jika kita telah mampu meletakkan arti tawakal pada garis yang sebenarnya, maka kita akan mendapatkan ganjaran-ganjaran yang telah Allah janjikan terhadap hamba-hambanya, sebab Allah Swt akan menjamin bahwa kita akan diberi bagian rezeki kita masing-masing sebagaimana halnya burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan kosong perut, dan pulang pada sore harinya telah menjadi kenyang.

Ada sebuah kisah inspiratif dari Nabi Muhammad saw dalam mempertahankan keyakinan serta cara beliau bertawakal kepada Allah Swt. Kisah yang diceritakan oleh Jabir r.a., bahwasanya ia pernah mengikuti perang bersama Nabi saw menuju arah Najd.

Ketika rasul sedang berteduh di bawah pohon (dikatakan dalam hadist pohon akasia) tiba-tiba seorang badui (dalam riwayat lain seorang Musyrik) menghampirinya sementara pedang Rasulullah masih tertambat di pohon, lalu ia menghunuskan pedang sambil berkata,”Kamu takut kepadaku?” "tidak", jawab beliau.

Kemudian ia bertanya “lalu siapakah yang bisa menyelamatkanmu dariku?” Nabi pun Menjawab dengan tegas “Allah!”.

Dalam riwayat lain yang diriwayatkan Abu Bakar al-Ismaili, ia mengatakan bahwa setelah rasul menjawab “Allah” mendadak jatuhlah pedang itu dari tangannya, maka diambilah pedang itu oleh Rasulullah, lalu beliau balik berkata,”Adakah yang bisa menyelamatkanmu dariku?” kemudian orang Badui itu menjawab “jadilah engkau sebaik-baik orang yang membalas”.

Baca juga: Menjaga Keseimbangan Hidup

Kemudian Rasulullah mengajaknya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat namun ia enggan untuk mengucapkannya. Akan tetapi, dia berjanji tidak akan memerangi kaum muslimin, dan tidak akan membantu kaumnya ketika memerangi kaum muslimin.

Dari uraian dan penjelasan diatas dapat kita simpulkan bahwa yakin dan tawakkal kepada Allah Swt sangatlah penting untuk menjaga keimanan kita agar tetap utuh, sebab ia merupakan pondasi agama bagi umat Islam.

Ditambah dengan adanya kisah inspiratif yang telah Nabi Muhammad saw contohnya kepada kita, semoga kita dapat meneladani keteladanan yang telah beliau contohkan kepada kita, selaku umatnya. Aamiin…

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Al-Qur'an dan Hadis

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals