Lupa Menjadi Muslim

Hampir kebanyakan orang terburu-buru tiap harinya dan lupa bagaimana cara menjadi muslim yang bersahaja dan berfikir sederhana seperti dahulu.


gambar: cair-ny.org

Indonesia memulai babak baru dalam konteks tema Islam dan masyarakat muslim (Islam and muslim society). Islam tidak lagi hanya digambarkan sebagai ibadah harian dengan ritus-ritus keagamaannya, namun Islam telah menjelma sebagai penggerak massa atau pemacu dan pemicu perubahan budaya. Komunitas muslim tidak lagi hanya teridentifikasi melalui mimbar mesjid dan mushola, namun komunitas muslim telah menampilkan dirinya dalam panggung orasi di ruang publik dalam menyikapi dan mengomentari benyak hal dari isu ekonomi hingga politik.

Seolah semua harus disangkut-pautkan dengan Islam. Berbagai prodak syariah dipromosikan sehari-hari di balik layar media digital. Berlomba dengan prodak konvensional dalam tema ekonomi, politik, hingga gaya hidup global. Urat nadi Masyarakat muslim di Indonesia terus dipompa agar berdetak kencang mengikuti irama kontestasi yang dipaksa untuk dibiasakan tiada henti.

Hampir kebanyakan orang terburu-buru tiap harinya dan lupa bagaimana cara menjadi muslim yang bersahaja dan berfikir sederhana seperti dahulu. Muslim yang berjalan dengan penuh rasa tenang ke manapun ia ingin pergi. Muslim yang bebas melangkah tanpa batasan sekat kelompok maupun ideologi.Tanpa takut dan canggung terlebih dahulu menyapa saudaranya. Tanpa curiga dan secara natural memiliki kemampuan berbaur dengan berbagai jenis dan etnis manusia.

Tidak banyak yang mencoba untuk sejenak berhenti dari hingar bingar kompetisi sehingga kedamaian hati kembali mengisi kehidupannya sehari-hari. Kembali dapat menyeruput teh di pagi hari dengan senyum karena melihat kabar baik menghiasi headline koran cetakan yang sekarang mulai ditinggalkan.

Tawa canda anak di pelataran sawah di bawah mendung membawa hujan. Saat orang tua mereka merundukkan caping memanen padi. Kisah yang dulu pernah ada yang sekarang terganti dengan berbagai varian dunia digital yang tak pernah ada habisnya.
Langkah kaki pemuda dan pemudi di kala senja menuju surau desa seolah tak terdengar lagi. Mengaji sedari maghrib hingga isya tak ubahnya seperti kapas yang berhamburan di udara kemudian hilang disapu angin. Rindu saat di mana temaram lampu damar berpijar kuning menandai akhir hari yang terselimuti gelap malam.

Saat semua telah terlelap dalam tidurnya, alam bawah sadar mengulang-ulang peristiwa seharian. Kemudian ribuan mimpi tersusun membentuk karakter jutaan manusia. Perkembangan dunia global mencetak watak manusia agar berjalan seperti keinginannya. Mungkin inilah yang ditangkap oleh Henri Bergson, Filsuf Perancis yang menjelaskan bahwa selain kesadaran murni, manusia juga dapat terpengaruh oleh kesadaran mekanik yang menjadikan otak seperti mesin rekam.

Kesadaran mekanik yang terinterpretasikan seperti bunyi bel yang diperdengarkan kepada seekor simpanse tiap sebelum makan, mereka akan berkumpul pada satu titik menuju santapannya selama bertahan-tahun. Kebiasaan yang berulang-ulang ini membuat mereka akan mudah tertipu. Saat bel dibunyikan, meski tak ada makanan mereka akan tetap meloncat dan berlari menuju santapan hampa.

Begitulah gambaran manusia yang hanya mengandalkan insting minus kesadaran dan perasaan. Melupakan inti dari nilai luhur dan alasan mengapa mereka dilahirkan dan mengapa mereka harus bersatu dalam keniscayaan masyarakat yang beragam. Pada akhirnya mereka hanya menemukan santapan hampa.

Menakar Alam Kesadaran

Weber adalah satu di antara beberapa orang yang menyadari bahwa kesadaran terkadang lebih berharga dari modal. Kesadaran bahkan menjadi penggerak modal saat di mana bangsa Jerman yang memeluk agama Kristen dilatih untuk menyiapkan dirinya agar menjadi manusia yang melayani.

Memupuk diri menjadi manusia pemberi tanpa berharap diberi membuat nilai modal yang terkumpul dari pemeluk Kristiani Jerman tak terbendung. Modal inilah yang kemudian muncul menjadi batu loncatan revolusi Jerman. Kesadaran Asketis (sufistik) yang dapat berimplikasi terhadap sektor realitas ekonomi sebuah Bangsa.

Lalu, di kala Barat menyadari keberadaan ilmu Kesadaran Asketis, di saat yang sama Bangsa Timur masih terbuai dan berbondong-bondong mengambil selimutnya dan terlelap melupakan bahwa mereka pernah memiliki sebuah ilmu tentang kesadaran Asketis. Meski demikian mungkin tidak semua umat Islam melupakan kesadaran itu.

Soekarno adalah salah seorang contoh figur yang mampu membawa kesadaran ke atas tanah. Saat keputusannya menjadikan Rupiah senilai dengan emas. Dekrit Presiden nomor 19 tahun 1946 menjamin bahwa lembaran rupiah adalah sebuah surat yang berfungsi menjadi sertifikat akan emas. Orang yang sadar seperti Soekarno akan secara natural mengerti bahwa jika nilai rupiah setara dengan emas, maka krisis zaman Soeharto tak akan pernah terjadi.

Tiap orang punya jalannya masing-masing dalam menuju alam kesadarannya.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Barir

Muhammad Barir, S.Th.I., M.Ag. adalah redaktur Artikula.id. Ia telah menulis beberapa karya, diantaranya adalah buku Tradisi Al Quran di Pesisir.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals