Ekoteologi hadir untuk merespons kondisi global yang kini tengah dihantui dengan tantangan paling kompleks dan mendesak yakni krisis iklim. Mengingat berbagai pendekatan—mulai dari sains, ekonomi, hingga politik—telah dicoba. Seperti publikasi tentang dampak krisis lingkungan, jual beli kompensasi karbon hingga regulasi yang pro lingkungan. Namun kerusakan lingkungan tak kunjung berhenti.
Realita tersebut menandakan masih ada celah, yang gagal dijangkau oleh pendekatan konvensional, yaitu dimensi teologi. Dengan merangkul agama sebagai penjuru moral diharapkan bisa mendorong semakin banyak orang sadar dan mau terlibat dalam aksi nyata penanggulangan krisis iklim. Untuk itu Kemenang menyebarkan gagasan Ekoteologi.
Mengenal Ekoteologi
Ekoteologi adalah konsep yang menggabungkan “oikos” (lingkungan), “theos” (ketuhanan), dan “logos” (ilmu), membentuk sebuah kerangka berpikir yang melihat isu lingkungan bukan hanya sebagai masalah fisik atau teknis, melainkan juga sebagai isu teologis dan etis.
Hal itu membuat ekoteologi mampu menyentuh dimensi personal serta mempengaruhi cara pandang dan keyakinan individu. Kondisi ini mungkin tercapai karena mengaitkan tanggung jawab menjaga alam sebagai bagian dari perintah dan nilai-nilai agama, sehingga terbentuk keyakinan kuat dan dorongan untuk melakukannya.
Klaim di atas diperkuat oleh penelitian berjudul “The Role of Religion in Shaping the Values of Nature”. Penelitian itu mengungkap bahwa agama menjadi salah satu instrumen penting dalam mempengaruhi cara pandang masyarakat terhadap lingkungan (Ives, 2024, hlm. 2). Dalam riset lain yang senada, agama tidak sekadar menjadi sistem nilai, namun lebih dari itu. Agama terbukti menjadi motor penggerak yang mampu menggugah masyarakat untuk menolak perusakan lingkungan (Michael S. Northcott, dkk., 2022, hlm. 6).
Sebaliknya, narasi sains, meskipun kuat, sering kali kesulitan untuk memotivasi aksi massal karena bersifat impersonal. Perbedaan mendasar inilah yang membuat ekoteologi memiliki keunikan yang menarik untuk dibedah.
| Baca juga: Islam dan Etika Lingkungan |
Keunikan Ekoteologi
Ekoteologi memiliki keunikan dalam Pendekatan Lingkungan Hidup Berkelanjutan, yaitu:
1. Menyediakan Kerangka Moral dan Etis yang Kuat:
Ekoteologi mengajarkan bahwa merusak alam sama dengan merusak ciptaan Tuhan. Dalam Islam, misalnya, konsep ini berakar pada sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim (pemberi kasih kepada seluruh alam dan kepada orang-orang beriman), yang berasal dari kata dasar rahmah atau cinta (Nasaruddin Umar, 2025). Sifat-sifat ini menunjukkan peran manusia dalam merawat alam tidak hanya sebagai tindakan rasional-fungsional, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab agama dan moral.
2. Menghubungkan Hati dan Akal:
Ekoteologi tidak menolak sains. Sebaliknya, ia menggabungkan hukum alam (kauniy) dengan hukum agama (syar’i). Kita boleh percaya pada mukjizat, namun tetap harus mengupayakan secara ilmiah. Dengan begitu, seharusnya peran agama tidak hanya mengajak berdoa, tetapi juga harus menjadi motor tindakan nyata. Misalnya menanam pohon atau menjaga ekosistem sebagaimana seruan Al-Qur’an dan hadis.
Dalam kedua sumber ajaran Islam tersebut, seruan-seruan bernada menjaga lingkungan dapat ditemukan dengan mudah. Untuk mengeceknya, silakan membaca publikasi Kabiru Adamu Umar “The Impact of Islamic Teachings on Forest Preservation and Its Contemporary Significance” halaman 178-180 yang mengompilasi ayat dan hadis tentang pelestarian hutan.
3. Mobilisasi Massa Skala Besar:
Dengan lebih dari 2 miliar pemeluk agama di seluruh dunia, potensi mobilisasi melalui institusi keagamaan jadi sangat besar. Pemuka agama, Tempat ibadah, lembaga pendidikan, dan organisasi masyarakat berbasis agama dapat menjadi motor penggerak aksi nyata yang masif dan terstruktur. Gerakan-gerakan seperti yang diinisiasi oleh Abdul Basith di Sumenep, Madura, menjadi bukti nyata bagaimana tokoh agama dapat menggerakkan masyarakat untuk melakukan penghijauan.
Hal itu beliau lakukan dengan cara mengajak dan memahamkan masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan melalui pengajian. Selain itu beliau melakukan pelatihan dan yang terpenting aksi nyata menanam pohon. Berkat inisiasi tersebut masyarakat tidak kesulitan air saat kemarau dan menjadi melek lingkungan. Ini adalah contoh konkret bagaimana agama tidak sekadar menjadi sistem nilai, tetapi juga “motor penggerak”.
Peran Kemenag
Tiga keunikan di atas menjadi kekuatan ekoteologi yang membuatnya layak untuk ditawarkan sebagai potongan puzzle pelengkap dari berbagai pendekatan penanggulangan krisis iklim. Selanjutnya agar gagasan ini dapat didengar dan direspons oleh kalangan luas, dibutuhkan promotor yang bertanggungjawab menyebarluaskan. Kini peran itu diambil oleh Kementerian Agama RI.
Promosi konsep ini bermula dari gagasan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA., yang kemudian diformalkan melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 244 Tahun 2025 tentang program prioritas Kemenag RI 2025–2029. Salah satu yang tercantum dalam keputusan tersebut adalah penguatan ekoteologi.
| Baca juga: Kurikulum Cinta, Kurikulum Kehidupan |
Hal itu kemudian dipertegas dengan keinginan Pak Menag agar ekoteologi menjadi identitas utama institusi yang beliau pimpin, sehingga konsep ini tidak berhenti di tataran wacana, tetapi segera menyebar ke masyarakat. Sebagai langkah nyata, telah dimulai gerakan menanam pohon di lingkungan kerja dan tempat ibadah oleh CPNS serta PPPK Kemenag, yang menjadi simbol sekaligus praktik awal dari upaya menghidupkan ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak berhenti di situ, terdapat program lain yang dilakukan kemenag yaitu menetapkan Kurikulum Cinta. Kurikulum ini mengharapkan lembaga pendidikan menanam nilai Panca Cinta, yang salah satunya adalah cinta lingkungan, dalam proses pembelajaran.
Beberapa program yang telah disebutkan di atas akan diikuti oleh program lainnya dengan harapan bisa membuat pendekatan Ekoteologi makin populer di masyarakat dan dapat terimplementasi melalui aksi nyata.
Referensi
Ives, Christopher, Jeremy Kidwell, Christopher Anderson, dkk. “The Role of Religion in Shaping the Values of Nature.” Ecology and Society 29, no. 2 (2024). https://doi.org/10.5751/es-15004-290210.
Northcott, Michael S., Anna M. Gade, Frans Wijsen, dan Zainal Abidin Bagir, ed. Varieties of Religion and Ecology Dispatches from Indonesia. LIT Verlag, 2022.
Umar Nasaruddin, Kuliah Umum kurikulum Berbasis Cinta di UIN Ponorogo 14 September 2025.
Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi
Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!
Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini!
Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!




0 Comments