Dalam perjalanan sejarah Islam, huruf Arab bukan sekadar sistem tanda baca, melainkan simbol peradaban dan spiritualitas. Huruf-huruf itu menuturkan wahyu, menyampaikan pesan Ilahi, dan menghiasi mushaf-mushaf yang dibacakan di seluruh penjuru dunia. Di balik setiap lekuk kaligrafi, tersimpan cerita panjang tentang dedikasi, ilmu, dan seni. Dari masa sahabat Nabi hingga abad pertengahan Islam, khat Al-Qur’an mengalami perkembangan luar biasa, baik dari segi bentuk maupun estetika.
Perubahan ini tidak terjadi seketika. Ia merupakan hasil transmisi dan transformasi yang panjang—dari masa Abul Aswad ad-Du’ali yang menyusun tanda baca pertama, hingga munculnya tokoh-tokoh besar seperti Ibnu Muqlah, Ibnu Bawwab, dan Al-Mu’tasimi. Tiga nama ini bukan hanya ahli kaligrafi; mereka adalah pembaharu seni tulis Al-Qur’an, yang mengubah huruf menjadi harmoni antara rasio, keindahan, dan spiritualitas (Barir, 2025).
Dari Kufi ke Naskhi: Awal Sebuah Revolusi Estetika
Sebelum abad ke-10, penulisan mushaf Al-Qur’an didominasi oleh khat Kufi, gaya tulis yang tegas, bersudut, dan kaku. Khat ini sangat cocok untuk pahatan di batu atau ukiran di dinding masjid, tetapi kurang fleksibel untuk naskah panjang (Sirojuddin, 2019). Ketika Islam berkembang dan kebutuhan penulisan mushaf meningkat, muncul kebutuhan untuk memiliki tulisan yang lebih mudah dibaca dan lebih estetis.
Pada titik inilah, Ibnu Muqlah (w. 940 M) muncul sebagai tokoh penting. Ia bukan hanya seorang kaligrafer, tetapi juga pejabat dan cendekiawan Abbasiyah yang memahami geometri dan estetika secara mendalam. Ibnu Muqlah mengembangkan sistem proporsi huruf berbasis titik dan lingkaran, sehingga setiap huruf memiliki ukuran matematis yang konsisten. Konsep ini dikenal dengan sebutan al-khath al-mansub — tulisan yang terukur dan seimbang (Sirojuddin, 2019).
Dengan prinsip ini, huruf-huruf Arab menjadi lebih halus dan harmonis. Ia berhasil menciptakan khat naskhi dan tsulutsi, dua gaya tulisan yang kemudian mendominasi dunia Islam selama berabad-abad. Bahkan, menurut sejarawan seni Islam, tanpa Ibnu Muqlah, tidak akan ada bentuk kaligrafi Arab seperti yang kita kenal hari ini.
Ibnu Muqlah: Sang Arsitek Huruf dan Geometri Ilahi
Ibnu Muqlah sering disebut sebagai “arsitek huruf Arab.” Ia memandang huruf bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga manifestasi keteraturan alam semesta. Dalam pandangannya, garis dan lengkung huruf adalah cerminan dari keseimbangan ciptaan Tuhan (Sirojuddin, 2019). Ia menggunakan prinsip geometri—lingkaran, garis, dan titik—untuk menakar bentuk setiap huruf agar memiliki proporsi sempurna.
Konsep geometri dalam kaligrafi tidak hanya soal estetika, tetapi juga spiritualitas. Setiap huruf dianggap memiliki “jiwa” yang harus dijaga kesempurnaannya. Melalui sistem ini, Ibnu Muqlah berhasil menyatukan rasionalitas dan keindahan dalam tulisan wahyu.
Sayangnya, nasib Ibnu Muqlah tragis. Dalam pusaran intrik politik Dinasti Abbasiyah, ia dituduh berkhianat dan dipenjara. Tangannya—alat yang melahirkan keindahan itu—dipotong. Namun, karya dan sistemnya tetap abadi. Setiap goresan huruf Arab setelahnya adalah jejak keabadian pemikirannya.
Ibnu Bawwab: Penerus Elegan yang Memadukan Geometri dan Jiwa
Beberapa dekade kemudian, muncul Abul Hasan Ali bin Hilal, atau yang lebih dikenal sebagai Ibnu Bawwab. Ia hidup di Baghdad pada akhir abad ke-10 dan dikenal sebagai ahli kaligrafi sekaligus iluminator mushaf (Barir, 2025). Jika Ibnu Muqlah adalah perancang sistem, maka Ibnu Bawwab adalah penyempurna rasa dan keindahan.
Ibnu Bawwab memperhalus khat naskhi buatan Ibnu Muqlah, menjadikannya lebih lembut, lebih lentur, dan lebih mudah dibaca. Ia juga menggabungkan elemen ornamen geometri dan floral (sulur-suluran) dalam mushafnya, yang hingga kini masih dapat disaksikan di Chester Beatty Library, Dublin.
Karya Ibnu Bawwab menjadi titik balik sejarah penulisan mushaf. Ia membuktikan bahwa seni Islam tidak sekadar ornamen hias, tetapi juga ekspresi spiritual yang lahir dari rasa cinta kepada Al-Qur’an. Setiap garis dan pola geometri bukan hanya dekorasi, melainkan simbol keteraturan Ilahi (Metropolitan Museum of Art, 2004).
Geometri dan Spiritualitas: Bahasa Visual Al-Qur’an
Seni Islam memiliki kekhasan: ia menghindari penggambaran makhluk hidup dan lebih menonjolkan abstraksi serta pola geometri. Bagi para khaṭāṭ (penulis mushaf), geometri bukanlah sekadar alat bantu, melainkan bahasa keindahan yang universal.
Terdapat tiga sistem utama yang digunakan dalam pembuatan ornamen mushaf:
- Circle grid untuk membentuk pola lingkaran,
- Triangle grid untuk pola segitiga, dan
- Square grid untuk pola persegi (Metropolitan Museum of Art, 2004, p. 26–30).
Dengan sistem ini, para penulis mushaf mampu menciptakan komposisi yang presisi, seimbang, dan memukau. Simetri yang dihasilkan bukan sekadar estetika, tetapi juga simbol kesempurnaan Ilahi dan keteraturan kosmos.
Al-Mu’tasimi: Kesempurnaan di Ujung Pena
Tokoh ketiga, Al-Mu’tasimi, dikenal sebagai pelanjut tradisi Ibnu Muqlah dan Ibnu Bawwab. Ia menyempurnakan proporsi kaligrafi dengan menggabungkan keindahan geometri dan ekspresi spiritual. Jika Ibnu Muqlah menciptakan sistem, dan Ibnu Bawwab memberi ruh keindahan, maka Al-Mu’tasimi menyatukannya menjadi harmoni sempurna.
Gaya tulisannya menghadirkan perpaduan antara bentuk dan makna, antara garis yang presisi dan ruh yang lembut. Ia dianggap telah membawa kaligrafi Islam pada puncak kematangan artistik, terutama pada masa kekhalifahan Abbasiyah akhir (Barir, 2025).
Karya Al-Mu’tasimi menjadi saksi bahwa kaligrafi Qur’ani adalah bentuk ibadah visual—setiap huruf yang digoreskan adalah dzikir yang ditulis, bukan sekadar seni untuk dipandang.
Dari Pena ke Peradaban: Makna Sosial Transformasi Khat
Perubahan bentuk khat dari Kufi ke Naskhi, dari kaku ke lentur, bukan hanya revolusi artistik. Ia juga cerminan dari perubahan sosial dan intelektual umat Islam. Menurut teori sosiologi pengetahuan Peter L. Berger dan Thomas Luckmann, perubahan dalam ekspresi budaya—termasuk seni tulis—selalu terkait dengan perubahan struktur kesadaran sosial (Barir, 2025).
Dalam konteks ini, perkembangan khat Al-Qur’an menunjukkan bagaimana peradaban Islam beradaptasi: dari tradisi oral menuju visual, dari hafalan menuju pembacaan yang estetis. Seni kaligrafi menjadi simbol hubungan antara ilmu, kepercayaan, dan budaya.
Kaligrafi Sebagai Zikir Visual
Seni kaligrafi Qur’ani tidak hanya dinikmati lewat pandangan mata, tetapi juga dirasakan melalui kedalaman hati. Para penulis mushaf tidak hanya melukis huruf, tetapi juga menuliskan dzikir. Setiap garis adalah doa, setiap lekuk adalah bentuk pengabdian.
Seperti dikatakan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah, seni Islam merupakan hasil “kecenderungan manusia untuk mendekatkan diri kepada keindahan Allah.” Maka, tulisan Al-Qur’an yang indah bukan sekadar kebanggaan estetis, tetapi cermin cinta seorang hamba kepada Sang Pencipta.
Warisan yang Hidup di Era Modern
Hingga kini, sistem proporsional Ibnu Muqlah masih digunakan oleh para kaligrafer modern di seluruh dunia Islam. Kursus kaligrafi di Turki, Iran, Mesir, hingga Indonesia mengajarkan prinsip yang sama: setiap huruf memiliki ukuran, keseimbangan, dan ruh.
Di Indonesia, semangat itu tampak dalam perkembangan seni khat di pesantren dan lembaga keagamaan. Lomba kaligrafi bukan hanya ajang seni, tetapi juga cara menanamkan rasa cinta terhadap Al-Qur’an. Melalui pena dan tinta, generasi muda Muslim mewarisi tradisi yang telah dirintis lebih dari seribu tahun lalu.
Ketika Huruf Menjadi Doa
Perjalanan Ibnu Muqlah, Ibnu Bawwab, dan Al-Mu’tasimi mengajarkan satu hal penting: bahwa keindahan dan kebenaran bisa bersatu dalam goresan pena. Mereka mengubah huruf menjadi doa, garis menjadi dzikir, dan tulisan menjadi jembatan antara manusia dan Tuhannya.
Dalam setiap mushaf yang kita baca hari ini, tersimpan jejak mereka—jejak cinta dan ilmu yang menjadikan kaligrafi Al-Qur’an bukan hanya warisan seni, tetapi warisan iman dan peradaban.
Sebagaimana Ibnu Bawwab pernah katakan, “Tulisan yang indah adalah cermin dari hati yang bersih.” Maka, menulis atau membaca Al-Qur’an dengan penuh cinta adalah cara paling indah untuk menjaga ruh wahyu tetap hidup di setiap zaman.
Daftar Referensi
Barir, M. (2025). Transformasi Khat Al-Qur’an Ibnu Muqlah, Ibnu Bawwab, dan Al-Mu’tasimi. UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo.
Metropolitan Museum of Art. (2004). Islamic Art and Geometric Design. New York: The Metropolitan Museum of Art.
Sirojuddin, A. R. (2019). Ibnu Muqlah: Dari Kaligrafi, Geometri, hingga Kebuasan Politik. NU Online. https://www.nu.or.id/esai
Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi
Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!
Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini!
Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!




0 Comments