Setan Sudah Pensiun, Kali Ya?

Setan-setan wujud manusia nampaknya lebih mengerikan. Nyatanya, dari mereka inilah suatu perpecahan dan permusuhan tumbuh dan berkembang dengan pesat.


Setan sudah pensiun, kali ya? Pertanyaan menggelitik ini muncul seiring dengan semakin bobroknya moral dan akhlak manusia akhir-akhir ini (bukan berarti saya sok suci, loh!). Kebobrokan moral dan akhlak tersebut dimulai dari “hoaks” yang tiada ujungnya, ditambah dengan kebohongan-kebohongan politik untuk memuluskan jalan menuju kursi parlemen pemerintahan. Pun, sekarang merupakan masa milenial, masa di mana media sosial “seakan” telah menjadi “tuhan” bagi generasi milenial, yang mampu menyebarluaskan kebohongan secara masif.

Satu di antara sekian banyaknya kasus yang ada adalah bencana yang selalu dikaitkan dengan pemimpin negara. Cukup dengan membumbuinya dengan teks keagamaan (baca: al-Qur’an dan hadis), pelintiran mulus dilancarkan.

Tidak hanya itu, seorang Kyai pun turut menjadi korban pelintiran oleh mereka yang tidak menyukainya. KH. Ma’ruf Amin, ketua MUI dan Rais ‘am PBNU, yang sekarang menjadi pasangan wakil Jokowi dalam pilpres mendatang, di akun https://m.youtube.com/watch?v=3AdcM4i4JXI&t=19s sempat diviralkan foto dan video beliau yang salaman (jabat tangan) dan “cipika-cipiki” dengan seorang wanita. Lantas kemudian dibandingkan dengan respon UAS (Ustad Abdul Somad) yang menolak ketika diajak jabat tangan seorang wanita.

Foto dan video tersebut pada akhirnya diklarifikasi, ternyata, wanita yang “cipika-cipiki” dengan KH. Ma’ruf Amin adalah istrinya sendiri. Ya wajar, jika beliau mau berjabat tangan bahkan cipika-cipiki.

Kasus-kasus di atas merupakan perbuatan “hoaks” dan sentimentil politik. Alhasil, pelintir sana pelintir sini, bohong sana bohong sini. Menurut KBBI, hoaks adalah berita bohong (KBBI Kemendikbud.go.id). Hoaks juga dapat diartikan sebagai ketidakbenaran suatu informasi. Idnan Amal mengatakan bahwa hoaks merupakan penipuan publik. Hoaks menjangkau luas dan menyebar secara masif melalui media sosial. (Idnan A. Idris, Klarifikasi al-Qur’an atas Berita Hoaks, 24).

Bagaimanapun bentuknya, hoaks merupakan suatu kebohongan, menipu. Pun demikian, sentimentil adalah sebuah perbuatan-perbuatan yang mengarah pada keburukan. Jika semua itu dilakukan manusia, lantas setan sekarang ngapain? Ngopi sambil ngerokok dan wifian, mungkin ya? Diakui atau tidak, masyarakat Indonesia (sebagian) tergolong “nggumunan” (istilah jawa yang berarti gampang kaget dan heran). Mudah percaya terhadap suatu berita, tanpa adanya klarifikasi, kemudian disebarkannya.

Setan-setan wujud manusia nampaknya lebih mengerikan. Nyatanya, dari mereka inilah suatu perpecahan dan permusuhan tumbuh dan berkembang dengan pesat. Layaknya suatu kendaraan yang melaju kencang tanpa bangjo (istilah jawa untuk trafficlight/lampu merah). Hal ini terjadi karena adanya fitnah. Menggiring opini dan berita yang sama sekali tidak jelas kebenarannya, bahkan murni salah, kemudian dibalut dengan kata indah seindah intan permata, seolah itulah kebenaran yang nyata. Cuplikan kata dan kalimat sengaja dipotong pada momen yang dapat dikatakan suatu kesalahan, kemudian diunggah dan disebarluaskan demi menjatuhkan. Yah, itu kan pekerjaan setan!

Dalam kajian al-Qur’an, QS. al-Nās (114) menuturkan:

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, (1) Raja manusia, (2) sembahan manusia, (3) dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, (4) yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, (5) dari golongan jin dan manusia”. (6)

Setan mengafiliasikan dirinya pada dua jenis, yakni jin dan manusia, tertera pada ayat 6. Sebelumnya, kata “khannās” pada ayat 4, dalam tafsir Ibn Abbās, dimaknai dengan setan. (Abdullah b. Abbās, Tanwīr al-Miqbās min Tafsīr Ibn Abbās, juz I, 522). Ia selalu membisikkan kejahatan ke dalam dada dan hati manusia.

Dari sini, dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa setiap hal-hal yang mengarah pada keburukan dan kejahatan, hakikatnya adalah setan. Termasuk dalam bagian ini adalah menyebarluaskan berita bohong dan tidak benar (hoaks), fitnah, adu domba, merasa paling benar, dan selalu menganggap yang lain salah.

Pertanyaannya, apakah setan mempunyai wujud secara tersendiri? lalu bagaimana dengan ungkapan-ungkapan yang umum di telinga kita, misal: “Orang itu kerasukan setan”? Sebuah pertanyaan yang menjadi judul dalam tulisan ini, sebetulnya hanya sebagai kiasan saja, yang menggambarkan begitu banyaknya keburukan dan kebencian yang telah terjadi akhir-akhir ini. Banyak yang menganggap bahwa setan adalah makhluk yang mempunyai wujud tersendiri.

Dalam berbagai tafsir yang ada, setan hanyalah sebuah perbuatan yang selalu mengarah pada hal-hal buruk dan jahat. Mengenai ungkapan: “Orang itu kerasukan setan”, sebenarnya bukan wujud setan yang dimaksud, akan tetapi bisikan-bisikan yang mengajak kepada hal-hal buruk yang telah merasukinya.

Selanjutnya, bagaimana dengan Iblis, apakah ia golongan setan, ataukah golongan jin? Dalam QS. al-Kahfi (18): 50, diterangkan:

Ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam!”, maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari (golongan) jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya.

Masih dalam tafsir Ibn Abbās, Iblis dalam ayat di atas, dimaknai bahwa Iblis merupakan makhluk golongan dari jin. (Abdullah b. Abbās, 248).

Dari sini ada perbedaan mendasar antara jin dan setan. Namun, kebanyakan orang menganggap bahwa keduanya sama. Hal ini disebabkan jin yang selalu dinilai negatif oleh orang karena kebanyakan dari mereka yang lebih condong pada hal-hal buruk. Padahal, Allah menciptakan jin juga untuk beribadah kepada-Nya (wa mā khalaqtu al-jinna wa al-insa illā li ya budūni). Artinya, jika dikatakan bahwa manusia ada yangmuslim dan ada yang kafir, maka begitu juga dengan jin. Bahkan, tidak menutup kemungkinan apabila ketaatan jin kepada Allah lebih besar dibanding kita.

Setan yang mengafiliasikan dirinya dalam wujud manusia, tidak memandang jabatan, gelar, status sosial, dan sebagainya. Seseorang dengan rentetan titelnya, tidak jarang terjerumus pada lobang kesesatan. Orang (yang mengaku) alim sekalipun (baca: ulama‟), yang selalu menebar kebencian terhadap sesama, memandang dirinya dan kelompoknya yang paling benar, justru mereka inilah wujud setan yang berbahaya. Namun, perlu diketahui di sini, bahwa manusia dikaruniai akal yang berfungsi untuk mengontrol segala perbuatannya. Jika akal lebih dominan dalam dirinya, maka ia akan terhindar dari segala bentuk bisikan keburukan setan. Sebaliknya, jika akal tidak digunakan, maka setan akan menguasai dirinya.

Jelas sudah paparan di atas, jika semua keburukan: fitnah, hoaks, kebencian, adu domba, caci maki, dan sebagainya, yang telah terjadi, dan semua dikerjakan oleh manusia, (mengacu pada kiasan judul tulisan ini) maka setan tidak perlu lagi membisikkan keburukan pada manusia. Dimulai dari ini, bisa dikatakan setan telah pensiun dari jabatannya, sehingga berhak menerima gaji pensiunan dari manusia.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Khoirul Faizin
Khoirul Faizin adalah mahasiswa Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Lahir pada 4 April 1994 di Lamongan. Ia juga sebagai tenaga pengajar al-Qur'an Hadis di MTs. Mamba'ul Ma'arif Banjarwati Paciran Lamongan.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals