Surah Yasin [36] Ayat 38: Memahami Hukum Alam Sebagai Takdir Allah Swt

Menurut Quraish Shihab, surah Yasin [36] ayat 38 adalah kelanjutan ayat sebelumnya yang berbicara mengenai tanda kekuasaan Allah Swt.


Umat Islam – selama ini – memahami ketentuan atau ketetapan hidup sebagai bagian dari takdir Allah swt. Secara istilah, takdir merupakan segala yang terjadi, sedang terjadi serta akan terjadi yang telah digariskan oleh Allah Swt, baik hasanah (kebaikan) maupun sayyi’ah (keburukan). Semua itu bersifat pasti, namun manusia diberi hak untuk berusaha sekuat tenaga.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), takdir Allah diartikan sebagai ketentuan atau ketetapan yang telah ditetapkan oleh-Nya sejak zaman azali – zaman di mana belum ada sesuatu apapun selain Allah Swt – bagi seluruh entitas. Artinya, Seluruh peristiwa yang ada di alam semesta – tanpa terkecuali – berada di bawah kekuasaan dan ukuran-Nya, termasuk kehidupan manusia.

Menurut Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Pelbagai Persoalan Umat, takdir berasal dari kata qaddara-yuqaddiru-taqdiran yang antara lain bermakna memberi kadar atau ukuran. Dengan demikian, jika dikatakan bahwa “Allah telah menakdirkan,” maka itu berarti Allah telah memberi kadar ukuran atau batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan makhluk-Nya.

Sedangkan dalam pandangan al-Raghib al-Asfahani, “Qadar atau takdir berarti kemampuan atau penguasaan ilmu, yang mencakup juga kehendak. Dengan qadar itu terwujud sesuatu yang sesuai dengan pengetahuan dan kehendak” (Mu’jam al-Mufradat li Alfaz al-Qur’an).

Baca juga: Hakikat Hukum Tuhan

Dalam konteks ini, takdir Allah dapat dimaknai sebagai suatu peraturan tertentu yang telah dibuat-Nya, baik aspek struktural maupun fungsional, berfungsi seperti undang-undang umum.

Secara umum, takdir Allah terbagi kepada dua macam, yakni takdir mubram dan takdir muallaq. Yang pertama adalah ketentuan Allah yang sudah ditulis di Lauhul Mahfuz. Tidak ada pengurangan, penambahan atau perubahan pada takdir ini. Ia adalah sebuah kepastian yang tak akan terhalang dan tak berubah oleh sesuatu apapun seperti kehidupan dan kematian.

Sedangkan takdir muallaq ialah ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Allah Swt, namun ia bisa berubah sesuai kehendak-Nya dan biasanya berkaitan dengan sebab-sebab yang diusahakan manusia. Rasulullah saw pernah bersabda, “tidak ada yang bisa menolak takdir Allah kecuali doa. Tidak yang bisa memperpanjang umur melainkan berbuat baik kepada ibu bapak.” [HR. Hakim, Ibnu Hibban dan Tirmidzi]

Berkenaan dengan takdir muallaq, Habiburrahman El-Shirazy dalam Ayat-Ayat Cinta pernah menyederhanakannya dengan ungkapan, “Takdir Tuhan ada di ujung usaha manusia. Tuhan Maha adil, Dia akan memberikan sesuatu kepada Umat-Nya sesuai dengan kadar usaha dan ikhtiarnya.”Artinya, takdir ini berbarengan dengan usaha manusia dan kehendak Allah Swt.

Urgensi Kesadaran Bahwa Hukum Alam Merupakan Takdir Allah Swt 

Takdir Allah Swt mencakup seluruh makhluk di alam semesta, baik yang terlihat maupun yang kasat mata. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari ketentuan-Nya, termasuk hukum alam atau hukum sebab-akibat (kausalitas). Alam bekerja sesuai ketentuan dan ukuran yang telah ditentukan secara presisi dan pasti, tidak lebih dan tidak kurang.

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa fenomena alam seperti tenggelamnya matahari, terjadinya hujan, revolusi dan evolusi planet merupakan peristiwa yang telah Allah Swt atur dan ukur. Semua itu berjalan dalam bingkai keseimbangan di bawah kekuasaan-Nya. Simaklah firman Allah dalam surah Yasin [36] ayat 38 yang berbunyi:

وَالشَّمْسُ تَجْرِيْ لِمُسْتَقَرٍّ لَّهَا ۗذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِۗ ٣٨

Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui.” (QS. Yasin [36] ayat 38).

Pada ayat ini Allah Swt ingin menegaskan bahwa keteraturan matahari tidaklah terjadi secara kebetulan atau tiba-tiba ada, melainkan berdasarkan ketentuan dari-Nya. Dia telah memberikan takdir-Nya kepada matahari dalam kadar dan ukuran tertentu sebagaimana yang telah kita saksikan. Hal ini juga merupakan tanda bahwa Dia Maha Kuasa.

Menurut Quraish Shihab, surah Yasin [36] ayat 38 adalah kelanjutan ayat sebelumnya yang berbicara mengenai tanda kekuasaan Allah Swt.

Sekelumit dari kuasa dan qudrat Allah itu dapat kita ketahui dengan membayangkan betapa besarnya matahari yang berukuran satu juta kali lipat bumi dan dia bergerak di angkasa raya yang begitu luas secara teratur, sama sekali tidak pernah melenceng.

Disebutkan bahwa matahari – pada faktanya – bergerak mengelilingi galaksi Bima Saksi dalam kecepatan 828.000 KM/jam. Pada kecepatan setinggi itu, matahari memerlukan waktu sekitar 230 juta tahun untuk membuat satu putaran lengkap (orbit) di sekitar galaksi Bima Saksi. Fakta ilmiah ini menunjukkan begitu agungnya kekuasaan Allah Swt.

Kata takdir pada surah Yasin [36] ayat 38 digunakan dalam arti menjadikan sesuatu memiliki kadar serta sistem tertentu dan teliti. Ia juga bisa bermakna menetapkan kadar sesuatu, baik berkaitan dengan materi maupun waktu.

Penyebutan kata takdir pada ayat ini menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an istilah takdir digunakan dalam konteks uraian tentang hukum alam, di samping hukum-hukum yang berlaku bagi manusia (Tafsir Al-Misbah [11]: 541).

Dari surah Yasin [36] ayat 38 kita belajar bahwa takdir Allah Swt tidak melulu soal nasib dan urusan manusia, melainkan juga ketentuan-Nya bagi seluruh entitas jagat raya tanpa terkecuali. Selain itu, ayat ini juga menegaskan tentang ke-Maha Kuasaan Allah dalam menciptakan, mengatur, dan memberikan aturan bagi makhluk-makhluk-Nya.

Baca juga: Hakikat Mu’jizat dan Hukum Alam

Lantas apa urgensi memahami hukum alam merupakan takdir Allah swt? 
Jawabannya ada dua, yakni: pertama, agar manusia bisa meyakini kekuasaan Allah Swt melalui pengamatan terhadap fenomena-fenomena alam (al-ayat al-kauniyah). Kedua, hukum alam sebagai takdir Allah swt harus dicermati dan dipatuhi agar manusia dapat mendapatkan keselamatan atau kesuksesan di dunia dan akhirat.

Sebagai gambaran, perubahan musim merupakan suatu hal yang pasti terjadi. Dalam perubahan musim tersebut terjadi berbagai peristiwa yang membarenginya. Misalnya, musim hujan pasti membawa air yang cukup besar bagi suatu daerah dan itu merupakan hukum alam yang akan terus terulang. Dengan memahami kondisi ini, kita tentu harus bersiap dengan penanggulangan banjir.

Jika kita tidak bersiap atau malah melakukan suatu hal yang dapat mengganggu siklus ini seperti menebang pohon secara berlebihan dan merusak lingkungan, maka kemungkinan besar akan terjadi genangan air atau bahkan air bah (banjir). Hal ini penting untuk disadari; bahwa alam bekerja dengan aturan tertentu yang tidak bisa diganggu-gugat oleh manusia.

Dengan kata lain, manusia tidak bisa menyalahkan datangnya air atau tingginya curah hujan, karena itu merupakan hukum alam yang tidak bisa dihindari. Yang harus disalahkan sebagai penyebab banjir bukanlah intensitas hujan, melainkan kesalahan tata kelola hutan dan kondisi irigasi pemukiman manusia yang membuat air tidak bisa terserap ke dalam bumi secara maksimal seperti sedia kala.

Dalam contoh yang lebih sederhana, pembuahan sel telur – secara umum – tidak terjadi secara sendirinya, tetapi melalui usaha mempertemukan antara sperma dan sel telur, baik secara alami maupun buatan.

Setelah itu barulah terjadi pembuahan dan pertumbuhan. Ini adalah hukum alam yang mesti kita teliti dan dipatuhi sebagai bagian dari takdir Allah bagi manusia jika ingin memiliki keturunan. Wallahu a’lam.

Editor : Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rafi

Master

Nama saya Muhammad Rafi. Saya berasal dari Kalimantah selatan, lebih tepatny kota Amuntai, sebuah kota yang terkenal dengan itik panggang dan apamnya. Saya dilahirkan di sebuah desa kecil yang bernama Kaludan Besar, pada tanggal 19 Juli 1997 bertepatan dengan 11 Rabiul Awal. Saya adalah anak pertama dari 4 orang bersaudara dari pasangan Abdul Gani Majidi dan Maimunah. Dalam perjalanan pendidikan dan keilmuan, saya memiliki 2 basic, sekolah negeri dan pondok pesantren. Mulai dari MI dan SD, MTs, Aliyah dan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidyah Amuntai. Saat ini say sedang berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Jurusan Ilmu al-Qur'an dan Tafsir sekaligus sebagai Mahas Santri di Pondok Pesantren LSQ ar-Rohmah Bantul.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals