Merawat Energi Positif di Bulan Ramadhan

Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat, sarat dengan imbalan, bonus pahala berlipat ganda. Siapapun orangnya akan tertarik dengan hadiah-hadiah Ramadhan.


BUKAN suatu kebetulan kalau Allah swt lantas memberikan kelebihan tersendiri dalam bulan Ramadhan. Salah satu maksud yang kita yakini adalah agar umat manusia memiliki momentum pertaubatan atas dosa-dosa yang dilakukannya di bulan-bulan yang telah dijalani. Di samping itu, manusia juga dianjurkan untuk mengeksplorasi sebanyak-banyaknya tanpa batas atas pahala, berkah, dan berbagai reward lain di bulan Ramadhan yang oleh-Nya akan diaudit secara langsung.

Tidak jarang dijumpai, ketika bulan Ramadhan tiba, banyak muncul tayangan televisi yang sarat dengan aroma religi, film-film yang dikemas dengan nuansa Ramadhan, ucapan selamat (baca: selamat menunaikan Ibadah Puasa) yang selalu menghiasi media massa, spanduk-spanduk yang bertuliskan ucapan selamat juga terpampang di mana-mana, gerakan jilbab juga muncul, khususnya di kampus-kampus perguruan tinggi umum. Walhasil, semua pihak dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari masyarakat desa dan masyarakat kota, mulai kaum abangan sampai kaum santri/pelajar, mulai yang hidup menderita sampai yang kaya raya semua menyambut gembira dengan datangnya bulan yang penuh ampunan.

Fenomena di atas menunjukkan bahwa umat Islam menyambut bulan Ramadhan dengan penuh rasa bahagia dan penuh harap. Mengapa demikian? Telah kita ketahui bersama, bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh rahmat, sarat dengan imbalan, bonus pahala berlipat ganda. Siapapun orangnya akan tertarik dengan hadiah-hadiah Ramadhan. Bayangkan, ibadah sunnah pada bulan Ramadhan akan disamakan pahalanya dengan ibadah wajib. Ibadah wajib dibalas tujuh puluh kali lipat.

Belum lagi berbicara tentang malam Lailatul Qadar. Beribadah pada malam ini lebih baik daripada seribu bulan atau 83 tahun. Lalu, adakah bonus yang lebih besar dari bonus Ramadhan ini? Jadi, cukup logis jika Rasulullah saw menyadarkan kita, “Jika kamu ketahui apa yang terkandung dalam bulan Ramadhan, pasti kamu akan mendambakan dua belas bulan dalam satu tahun adalah seluruhnya bulan Ramadhan.

Ramadhan Berkah di Kampus

Ada pemandangan lain ketika bulan Ramadhan tiba, dapat kita amati di beberapa Kampus, baik perguruan tinggi Umum maupun Islam. Hampir semua elemen organisasi kemahasiswaan–intra maupun ekstra– “sepakat” untuk menyelenggarakan kegiatan yang dikemas dengan buka bersama. Semula organisasi yang jarang muncul di permukaan mahasiswa, tiba-tiba muncul pada bulan Ramadhan dengan agenda buka bersama. Memang dalam ajaran Islam diajarkan agar memberi ta’jil kepada orang yang berpuasa.

Dari sini, tersirat bahwa dalam bulan suci ini dianjurkan untuk sering-sering bershadaqah dalam bentuk apapun, dan kebanyakan mereka (baca: mahasiswa) memanfaatkan kegiatan Buka Bersama sebagai ajang saling bershadaqah dan juga sebagai ajang untuk menarik simpati anggotanya dalam rangka mengikuti kegiatan. Biasanya sebelum buka bersama agenda kegiatan yang dilaksanakan antara lain; mengadakan Kajian/Diskusi, membahas masalah klasik hingga aktual, masalah pendidikan, sosial, hingga politik, bahkan ada yang dikemas dengan buka bersama dengan para Anjal (anak Jalanan), para pemulung, anak-anak yatim piatu dan lainnya.

Di samping itu fenomena yang tampak lain dari hari-hari biasanya adalah merajalelanya tempat-tempat pelaksanaan shalat. Biasanya di beberapa tempat tidak sepi dengan jamaah, lebih-lebih jamaah shalat Isyak dan Tarawih. Perlu dimaklumi, memang Masjid Kampus (meskipun sudah dapat dikatakan besar) ternyata belum mampu untuk menampung seluruh elemen kampus dan masyarakat sekitar untuk melaksanakan shalat jamaah secara bersamaan dalam satu waktu. Sehingga dengan bekal kecerdasannya mereka melaksanakan shalat Tarawih (secara berjamaah juga), meskipun dengan kelompok mereka sendiri di tempat yang telah disepakati.

Selain Buka bersama dan tarawih bersama, fenomena yang muncul di kampus ketika bulan Ramadhan adalah acara Tadarus bersama. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan setelah shalat tarawih. Dalam tadarus ini selalu dibarengi dengan agenda lainnya, misalnya refleksi diri yang biasanya dilaksanakan tengah malam, refleksi organisasi, hingga refleksi kampus dan lainnya. Sungguh sangat menggembirakan agenda Ramadhan ini jika tetap dapat dipertahankan di bulan-bulan selain ramadhan.

Yang tak kalah serunya, pemandangan yang tidak seperti biasanya, ketika menjelang lebaran biasanya para mahasiswa yang berasal dari jauh luar kota memanfaatkan momen ini untuk pulang kampung secara berjamaah dengan menyewa satu mobil. Dengan demikian rasa persaudaraan mereka dalam satu daerah kembali menjadi erat dan akrab. Sungguh akan baik, jika tradisi ini terus dipupuk sehingga juga dapat dipraktikkan di bulan-bulan selain Ramadhan.

Dari beberapa fenomena yang terjadi di kampus tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa berkat datangnya Ramadhan, semarak Islam terlihat meningkat, dan alangkah indahnya jika fenomena ini dapat terpelihara di bulan selain Ramadhan. Tugas kita selanjutnya hanyalah satu. Mampu untuk menjaga apa yang telah kita laksanakan selama bulan Ramadhan ini dapat kita pertahankan sampai dengan menyambut datangnya bulan Ramadhan berikutnya. Amin

Bila pada bulan Ramadhan dianjurkan untuk melakukan tadarrus (mempelajari Al-Qur’an bukan hanya membaca al-Qur’an), melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah, memperbanyak infaq dan lain-lain seyogyanya perbuatan yang seperti ini tetap dilanjutkan sekalipun bulan puasa Ramadhan telah berakhir.

Namun sebagian di antara kita kurang memahami makna anjuran dimaksud sehingga kebaikan-kebaikan yang dilakukan selalu bersifat tentative (sementara). Agaknya tepat sekali statement yang menyatakan bahwa bulan puasa adalah syahr al-riyadhah (bulan latihan) yang arena pertandingannya akan digelar pasca bulan puasa. Berhasil tidaknya latihan yang dilakukan dapat dilihat sejauh mana kemampuannya mengaplikasikan pengalaman-pengalaman yang telah didapat pada saat melakukan latihan.

Dengan demikian maka puasa pada bulan Ramadhan bukanlah tujuan, akan tetapi sebagai sarana latihan untuk menghadapi perlawanan di medan tempur pada bulan-bulan berikutnya. Sebagai sarana latihan tentu saja harus memperhatikan dan menerapkan dengan serius kiat-kiat yang sudah diatur oleh Allah agar tidak kalah dalam menghadapi pertandingan yang sesungguhnya pada bulan-bulan yang lain.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Abdul Halim Fathani
Abdul Halim Fathani merupakan dosen di Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang. Lahir di Lamongan, tepat Hari Pahlawan 1983. Pendidikan tinggi S1 Matematika ditempuh di UIN Malang, dan melanjutkan S2 Pendidikan Matematika Universitas Negeri Malang. Ia berkesempatan 'nyantri' di pesantren Tanwirul Qulub dan Al-Ma'ruf, keduanya di Lamongan. Memiliki hobi membaca sekaligus menulis dan selalu menjadikan “matematika” sebagai perspektif. Berbagai tulisannya dapat dibaca di berbagai media massa/online. Ada yang dipublikasikan dalam bentuk buku, artikel jurnal ilmiah, maupun prosiding ilmiah. Ada yang berperan sebagai penulis tunggal maupun kontributor dalam buku “antologi”. Aktif di Komunitas “Sahabat Pena Nusantara” dan “Forum Literasi Matematika”. Korespondensi via email: [email protected] atau HP. +6281334843475.

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals