Menakar ​Islam Tekstual ​di Indonesia

Padahal kalau kita membuka sejarah sekalipun, sudah jelas bahwa al-Quran tidak turun dalam ruang hampa, ia bersinggungan dengan aspek budaya yaitu budaya Arab


Beberapa bulan yang lalu, jagat maya dihebohkan oleh pernyataan Menteri Agama terkait larangan bercelana cingkrang dan bercadar bagi ASN. Pernyataan Pak Menteri Agama kemudian mendapat respons yang beragam dari netizen bahkan ditentang keras oleh beberapa kelompok Islam di Indonesia.

Argumen tersebut telah menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Pak Menteri kemudian mencabut pernyataannya dan meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti.  

Saya sengaja mengawali ulasan ini dengan kembali merefleksikan fenomena keindonesiaan belakangan ini. Saya melihat bahwa apa yang dirisaukan oleh salah seorang pemikir intelektual muslim, Abdullah Saeed, itu nyata dalam kehidupan keindonesiaan hari ini. Kegelisahan Saeed saat itu tak lain dilatarbelakangi oleh derasnya perkembangan model penafsiran al-Quran yang lebih menekankan pada aspek literal.

Lalu apa alasan kegagalan tafsir tekstual menurut Saeed? Mengutip pendapatnya dalam buku Al-Quran Abad 21, bahwa pendekatan tekstual gagal memberikan keadilan yang utuh terhadap ayat-ayat yang ditafsirkan, akibatnya ayat-ayat tersebut dianggap tidak relevan dengan masyarakat kontemporer, atau dipraktikkan secara tidak semestinya, sehingga justru merusak prinsip-prinsip dasar dari al-Quran itu sendiri. Begitupun di Indonesia, belakangan ini kelompok tekstualis semakin menampakkan dirinya ke permukaan. 

Loading...

Dalam aktivitas keagamaan di belahan dunia mana pun, bahkan Indonesia sekalipun, para kelompok tekstualis memiliki kecenderungan menutup diri dengan penafsiran kontemporer dan meyakini bahwa model penafsiran yang mereka yakini sudah bersifat final dan satu-satunya kebenaran tunggal.

Mereka menganggap bahwa nilai-nilai yang terkandung di dalam al-Quran harus diamalkan sesuai dengan al-Quran dan hadis. Menurut mereka tidak ada kompromi dengan hal-hal yang berbau tradisi dan budaya dalam praktik beragama.

Padahal kalau kita membuka sejarah sekalipun, sudah jelas bahwa al-Quran tidak turun dalam ruang hampa, ia bersinggungan dengan aspek budaya yaitu budaya Arab. 

Sedangkan untuk tetap menghidupkan nilai-nilai universalitas dari al-Quran dan tetap sesuai dengan zaman modern seperti ini, maka di sinilah kontekstualisasi terhadap ayat-ayat Al-Quran dibutuhkan.

Hal tersebut dimaksudkan untuk tetap menjaga nilai-nilai al-Quran agar tetap peka terhadap zaman kekinian dan mampu menjawab persoalan-persoalan kontemporer. 

Saya berkesimpulan bahwa  seandainya semua kelompok agama di Indonesia memiliki hubungan yang harmonis, tidak muncul benturan antara kelompok Islam yang satu dengan yang lain, maka tidak ada yang perlu dirisaukan, akan tetapi keributan atas nama agama seolah menjadi konsumsi kita sehari-hari dan bahkan semakin tak terbendung.

Dalam rangka menjaga persatuan dalam keberagaman di negeri ini, maka di sinilah menurut saya pentingnya sebuah alternatif pendekatan kontekstual terhadap teks yang berpotensi memunculkan persoalan di masyarakat, Abdullah Saeed mengistilahkannya dengan “Ethico Legal”, yaitu ayat-ayat yang berkaitan dengan etika hukum. 

 

Loading...

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Khairul Huda

Mahasiswa Interdisciplinary Islamic Studies, Konsentrasi Psikologi Pendidikan Islam, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals