Guru Filsafat, Haram?

Pada akhirnya, percaya fatwa bahwa guru filsafat itu haram atau tidak, itu kembali kepada diri kita masing-masing.


Sumber gambar: dakwahjateng.net

Beberapa hari kemarin, media sosial kembali dihebohkan dengan unggahan, tepatnya cuitan, twitter pada akun milik @narkosum, tentang 50 daftar pekerjaan haram. Di antara pekerjaan yang dianggap haram tersebut, yaitu: penyanyi, artis, pelawak, penari, dan banyak lagi. Pembaca bisa membacanya sendiri di berbagai media daring. Sayangnya, dalam unggahan tersebut tidak dijelaskan alasan kenapa profesi-profesi tersebut diharamkan.

Ada satu profesi yang amat mengusik penulis, yaitu; guru filsafat, yang menempati urutan ke 50 atau terakhir dari profesi yang dianggap haram. Padahal, selama ini penulis beranggapan bahwa filsafat itu amat sangat penting dipelajari. Filsafat diajarkan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia sebagai mata kuliah.  Jadi, di Indonesia lebih tepatnya tidak ada profesi guru filsafat, adanya dosen filsafat. Emang apa sih filsafat itu?

Baca Juga: Antara Filsafat dan Perasaan Perempuan

Secara Bahasa, filsafat berasal dari prasa dalam Bahasa Yunani, yaitu philo yang berarti cinta dan shopia yang berarti pengetahuan, hikmah, kebijaksanaan. Jadi, filsafat itu cinta kebijaksanaan. Banyak ahli yang mendifinisikan filsafat. Ada yang menganggapnya sebagai suatu ilmu kritis, ada yang menganggapnya ibu dari semua ilmu, ada juga yang menganggapnya sebagai seni berpikir. Tapi bagi penulis pribadi, definisi filsafat adalah perenungan mendalam dan kritis terhadap suatu hal.

Filsafat memiliki tiga cabang. Pertama, Ontologi, membahas hakikat segala yang ada. Ontologi terbagi menjadi beberapa kajian, yaitu kosmologi (membahas perihal alam semesta), teologi (membahas perihal ketuhanan), dan metafisika (membahasa perihal segala yang di luar fisik). Biasanya, persoalan yang sering muncul dalam cabang filsafat ini adalah tentang awal mula alam raya ini, tentang ruang dan waktu, tentang hakikat manusia, hakikat hidup, keberadaan Tuhan, hubungan Tuhan dan manusia.

Kedua, Epistemologi, membahas asal mula ilmu pengetahuan, bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh, klasifikasi ilmu pengetahuan, bagaimana cara kerja ilmu pengetahuan.

Ketiga, aksiologi, membahas tentang nilai-nilai seperti persoalan tentang apakah ilmu itu bebas nilai atau terikat nilai. Aksiologi terbagi menjadi dua, etika (membahas baik-buruk, benar-salah), dan estetika (membahas keindahan).

Filsafat diyakini lahir pada masa Yunani kuno dan dicetuskan pertama kali oleh Thales. Ada juga yang meyakini bahwa filsafat sebenarnya sudah ada sejak era Mesir kuno. Filsafat di Yunani dan Eropa lambat laun mengalami kemunduran. Uniknya, Eropa juga mengalami kemunduran seiring mundurnya filsafat mereka. Sampai-sampai kala itu Eropa dianggap sedang memasuki Dark Ages (zaman kegelapan).

Di sisi lain, kala itu cendekiawan Muslim sedang gencar-gencarnya mengkaji filsafat. Bahkan ketika era Dinasti Abbasiyah pimpinan al-Ma’mun, karya-karya filsafat yang berbahasa Yunani diterjemahkan ke Bahasa Arab, secara besar-besaran. Walhasil, banyak filsuf dan ilmuwan Muslim yang menemukan temuan-temuan ilmiah, yang sampai sekarang dapat dirasakan manfaatnya. Misalnya saja al Khawarizmi dengan al-Gebra atau al Jabarnya, Ibnu Sina atau Avisen dengan al-Qanun fith Thib-nya, dan banyak lagi.

Baca Juga: Menjadikan Filsafat Sebagai Perilaku Hidup

Tahukah kamu? Ilmuwan muslim yang kala itu membawa Islam pada era Golden Ages ternyata merupakan filsuf juga lho. Sebut saja Ibnu Sina yang juga ahli di bidang kedokteran, Ibnu Khaitam yang juga ahli di bidang optik, Ibnu Khaldun yang juga ahli di bidang sosiologi, Ibnu Farabi yang juga ahli di bidang astronomi, dan banyak lagi.

Setelah Islam mengalami kemunduran karena berbagai faktor, Barat kembali berjaya yang ditandai dengan Renaisans. Dan juga, tokoh renaisans ini merupakan para filsuf. Ya begitulah faktanya, filsafat selalu berdampingan dengan peradaban.

Kalo di Indonesia, apa kabar filsafat?

Pernah mendengar Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara? Pernah mendengar landasan filosofis dalam perundang-undangan? Pernah mendengar nasehat “Hiduplah seperti filosofi padi?”

Pertanyaan-pertanyaan tersebut setidaknya menunjukkan bahwa filsafat bukan hanya melulu membahas Tuhan itu ada atau tidak, sebagaimana distereotipkan sebagian orang. Lebih jauh dari itu, filsafat masuk dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita merenung dalam kesendirian, lalu bertanya-bertanya apa yang harus aku capai? Apakah hidupku sudah berarti?, ketika itu lah kita juga berfilsafat.

Pokoknya jangan belajar filsafat, nanti pikiranmu sesat! Duh Gusti, al-Ghazali saja yang hujjatul Islam itu belajar filsafat. Bahkan gara-gara filsafat, beliau sampai berkonfrontasi dengan Ibnu Rusyd, lewat buku-buku ilmiahnya, ya, bukan baku hantam.

Pada akhirnya, percaya fatwa bahwa guru filsafat itu haram atau tidak itu kembali kepada diri kita masing-masing. Toh itu fatwa, bisa diikuti, bisa juga tidak. Melalui tulisan ini, penulis hanya ingin berpesan: “Telitilah dengan seksama suatu hal sebelum kita menilai suatu hal tersebut.”

Intinya, jangan semudah membalikkan telapak tangan dalam menghakimi sesuatu. Bahasa kerennya kini, tabayyun, bener gak? Bagi penulis, tabayyun itu artinya menentukan bayyin-tidaknya sutau hal dengan amat teliti bahkan bila perlu secara berulang-ulang. Dan bayyin itu artinya suatu hal yang benar-benar jelas.

Oh ya, pemaparan tentang filsafat di atas itu murni dari pikiran penulis yang didapat ketika kuliah. Jadi, mohon maaf apabila ada yang keliru atau kurang tepat. Tugas pembaca untuk tabayyun, hehehe.[AR]
 _ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 1

Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  1. Awalnya dalam tulisan ini saya mengharapkan akan adanya uapaya netralisir yang komprehensif tentang hal ihwal terkait profesi dan filsafat. Utamanya pesrsepsi khalayak tentang filsafat, namun sayang setelah rampung membacanya rasa penasaran itu benar-benar belum terjawab secara tuntas. Meski demikian, tulisannya layak untuk dikasih jempol. Setidaknya telah memberi celah ide kepada pembaca untuk menuntaskan persoalaan tersebut. Terimakasih.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals