Menjadi Saudara yang Baik

"...sebelum berteman, sebaiknya melihat siapa yang akan dijadikan sebagai saudara atau sahabat..."


“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat” (QS. Al-Hujarat:10)

Manusia mencintai orang lain, bisa karena dirinya bagus dan disukai. Bisa juga karena ia menjadi alat kepada tujuan di luar dirinya dan tujuan tersebut erat kaitannya dengan hal-hal yang bersifat duniawi ataupun ukhrawi.

Saling mencintai yang berlandaskan karena Allah dan persaudaraan dalam tali agama Allah termasuk ibadah yang utama, keduanya adalah akhlak terpuji yang seharusnya kita jaga dalam menapaki kehidupan yang fana ini. Persaudaraan ini merupakan anugrah dan nikmat Allah yang sangat agung. Hal ini tercermin dalam firman-Nya:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara.(QS. Ali Imran:103)

Dalam  kitab Ihya’ Ulumuddin terdapat keterangan bahwa Nabi bersabda,”sesungguhnya yang terdekat dariku diantara kalian duduknya adalah yang terbaik ahklaknya, dan merendahkan dir, yang mencintai dan dicintai.”

Dapat kita pahami, bahwa Nabi Muhammad dengan akhlaknya yang agung dapat memberikan contoh prilaku bersaudara yang baik. Beliau selalu menjaga hubungan baik dengan siapa saja, termasuk orang-orang yang menggap musuh terhadap beliau. Oleh karenanya, hadis tersebut memberikan ‘tawaran’ kepada kita umat Islam, siapa saja yang memiliki akhlak yang baik, tawadhu, dan saling mencintai dalam kebaikan, maka ia kelak akan duduk di samping Nabi.

Namun kadang dibingungkan dengan banyaknya saudara-saudara yang selalu bersama dengan kita dan kita juga tidak mengetahui, apakah persaudaraan yang dijalin tersebut ada unsur-unsur atau tujuan-tujuan di baliknya atau karena Allah saja. Tentu, kita harus memilih dan memilah saudara yang baik dan yang tidak serta seberapa jauh hubungan yang seharusnya kita jalani. Nabi bersabda: “manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kalian melihat siapa yang akan dijadikan saudaranya.”

Hadis tersebut memberikan gambaran dan saran agar sebelum berteman, sebaiknya melihat siapa yang akan dijadikan sebagai saudara atau sahabat. Karena hal tersebut secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap kebiasaan-kebiasaan atau prilaku yang ada pada dirinya. Bisa jadi ia terpengaruh dengan prilaku saudaranya, bisa juga tidak. Namun realita yang terjadi, banyak yang terpengaruh dengan saudaranya dengan alasan ’merasa tidak enak jika tidak sama atau minimal ikut dengannya’.

Dalam bersahabat harus mempertimbangkan beberapa hal sebelum memilih saudara, baik ahklaknya, cerdas, dan ‘mengerti’, dalam arti dapat memberikan manfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Misalnya, menolong saudaranya tidak saja pada saat sedih tapi juga saat senang. Saat senang dengan mengingatkan bahwa senang dan susah itu hanya ujian semata dari Allah. Apakah kita akan merana saat diberi musibah dan putus asa atau senang yang melenakan sampai-sampai melupakan Allah. Firman Allah dalam surat al-Kahfi ayat 28: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.”

Khalifah Ali bin Abi Thalib pernah berkata: Jangan berteman orang bodoh, awaslah kamu terhadapnya, betapa banyak orang bodoh yang membinasakan orang bijak yang bertemu dengannya. Manusia itu diukur dengan manusia yang lainnya, mempunyai ukuran dan kesamaran dan hati menjadi petunjuk hati ketika bertemu dengannya.

Pesan Khalifah ketiga ini, memberikan beberapa pelajaran dan hikmah. Di antaranya: pertama agar selalu berhati-hati dalam memilih sauadara atau teman, karena jika ia baik tentu akan memberikan manfaat bagimu, dan jika ia jahat, ia akan menjerumuskanmu. Kedua, ukuran manusia satu dengan selainya dapat dilihat ketika ia bersaudara atau berteman. Semakin lama ia berteman maka akan semakin tahu semua kejelekan dan kebaikan dirinya yang kemudian mereka akan dapat menyimpulkan bahwa saudaranya tersebut adalah ‘baik’ atau ‘buruk’.

Terakhir, semoga kita semua menjadi saudara yang mencintai dan dicintai karena Allah, bukan karena sebab lain yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Wallahu A’lam Bissowab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Dr. Ridhoul Wahidi, MA

Dr. Ridhoul Wahidi, MA. Dosen Tafsir pada Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universitas Islam Indragiri Tembilahan, Provinsi Riau. Menulis artikel dan buku motivasi dalam menghafal Al-Quran dan kajian keislaman baik media cetak maupun media Online.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals