Transformasi Sistem Pendidikan Pesantren di Era Pandemi Covid-19


Sumber gambar: harapanrakyat.com

Pondok pesantren yang melembaga di masyarakat, terutama di pedesaan merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Awal kehadiran Boarding School bersifat tradisional untuk mendalami ilmu-ilmu agama Islam sebagai pedoman hidup (tafaqquh fi al-din) dalam bermasyarakat. Karena keunikannya itu, Abdurrahman Wahid menyebutnya sebagai subkultur masyarakat Indonesia (khususnya Jawa). Pada zaman penjajahan, pesantren menjadi basis perjuangan kaum nasionalis-pribumi.

Penyelenggaraan lembaga pendidikan pesantren berbentuk asrama yang merupakan komunitas tersendiri di bawah pimpinan kyai atau ulama dibantu oleh seorang atau beberapa orang ulama, dan atau para ustadz yang hidup bersama di tengah-tengah para santri dengan masjid atau surau sebagai pusat kegiatan peribadatan keagamaan. Di samping itu, gedung- gedung sekolah atau ruang- ruang belajar sebagai pusat kegiatan belajar mengajar, serta pondok-pondok sebagai tempat tinggal santri.

Baca Juga: Pengamatanku Soal Ragam Pengajian di Pesantren

Pengembangan aspek-aspek pendidikan karakter diutamakan pada karakter-karakter dasar yang menjadi landasan untuk berperilaku dari setiap individu. Indonesia Heritage Foundation merumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter, antara lain: 1). Cinta kepada allah dan semesta beserta isinya; 2). Tanggung jawab, disiplin dan mandiri; 3). Jujur; 4). hormat dan santun; 5) Kasih sayang, peduli, dan kerja sama; 6). Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah; 7) Keadilan dan kepemimpinan; 8) baik, rendah hati, dan 9). Toleransi, cinta damai dan persatuan.

Kiprah pesantren khususnya dalam pengembangan karakter sangat dirasakan oleh masyarakat. Contoh utama adalah pembentukan kader-kader yang berakhlak dan pengembangan keilmuan Islam. Hal tersebut merupakan sikap sekaligus gerakan-gerakan protes terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda. Protes tersebut selalu dimotori dari dan oleh kaum santri. Maka dari itu, sejaran pendidikan di Indonesia tidak bisa terlepaskan oleh sistem pendidikan pesantren.

Ciri khas yang disandang itu menjadikan tidak akan mungkin pesantren diberlakukan peraturan yang sama dengan sekolah. Penyelenggaraan pendidikan di pesantren salaf umumnya dengan menggunakan metode sorogan, bandungan, dan wetonan. Sistem sorogan merupakan proses pembelajaran yang bersifat individual atau pendidikan tradisional, dan sistem pembelajaran dasar dan paling sulit bagi para santri, sebab santri dituntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin diri dalam menuntut ilmu.

Madrasah diniyah yang sering kita dengar di pesantren merupakan metode pembelajaran klasik dan klasikal serta berjenjang, namun metode pembelajaran tersebut tidak menyurutkan terjadinya perubahan di pesantren. Minat masyarakat terhadap era globalisasi juga menghadirkan wajah baru dalam interaksi sosial masyarakat modern

Saat ini dapat kita lihat bahwa perkembangan pesantren telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal tersebut dapat kita lihat dari transformasi pendidikan pesantren salaf menjadi pesantren modern. Sesuai dengan konteksnya, pesantren modern hadir dengan menggunakan sistem pesantren yang modern. Baik dalam sistem mengajar, kurikulum ataupun teknologi, lebih-lebih di era pandemi covid-19.

Baca Juga: Pesantren Sebagai Bengkel Kesantunan

Pandemi yang disebabkan oleh merebaknya virus corona telah merubah sistem pendidikan pesantren. Bisa kita lihat, bahwa perubahan digitalisasi dalam proses pendidikan melalui Zoom, Google meet, atau aplikasi seperti Whatshap dan lain-lain. Semua pengajaran dilakukan dengan menggunakan sistem online.

Transformasi pendidikan pesantren dari salaf ke modern menjadikan santri yang berkualitas. Kualitas santri tidak hanya dapat dirasakan pada aspek karakter saja, melainkan juga pada aspek pemahaman teknologi dan informasi global. Tidak hanya itu, berbagai macam lembaga pendidikan formal yang ada di dalam pesantren, sekarang sudah mewujudkan wajah baru (Sistem Baru), yaitu sistem integrasi dan interkoneksi dengan menggabungkan serta mengajarkan kepada peserta didik untuk mempelajari ilmu-ilmu lain selain ilmu-ilmu agama Islam. Hal tersebut bertujuan supaya santri atau siswa dapat menyalurkan serta mengembangkan kelimuan dalam konteks perkembangan zaman.

Editor: Ainu Rizqi

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Dirasah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals