Tetap Hidup di Era Digital yang Serba Cepat


Sumber gambar: https://online.maryville.edu/

Era digital telah tiba di hadapan kita, dan menjadi satu kesatuan dalam setiap aktivitas keseharian berkat hadirnya handphone dan internet. Dua hal ini adalah teman wajib kita dalam menjalani kehidupan mulai dari berkomunikasi, belajar, bermain, bekerja, hingga ragam rutinitas lainnya.

Terlebih di saat pandemi Covid-19, kita merasa bahwa teknologi telah membantu banyak pekerjaan kita, bukan? oleh karena itu mari belajar hidup berdampingan dengan teknologi.

Sejak pandemi, fasilitas digital mengalami peningkatan signifikan serta kemauan kita sebagai pengguna untuk mengeksplorasi potensi digital juga meningkat. Dahulu adalah aktivitas sekolah, seminar, rapat, bekerja kebanyakan dilakukan secara tatap muka.

Namun pandemi membuat aktivitas konvensional itu tidak lagi dapat dilaksanakan dengan alasan kesehatan.

Kondisi ini telah mengubah perilaku kita dari interaksi langsung menjadi interaksi daring. Tentu perubahan ini tidak hanya membawa manfaat namun pasti ada efek samping yang menyertainya.

Contohnya keinginan kita untuk berlama-lama memanfaatkan fasilitas digital sehingga terkadang terselip kegiatan yang kurang produktif akibat kegabutan yang hakiki, seperti scroll media sosial, berburu promo di toko online, dan aktivitas lainnya.

Pemaparan di atas sejalan dengan konten dari channel youtube Tedx Talk yang dibawakan Chris Bailey penulis buku Hyperfocus: How to Be More Productive in a World of Distraction. Ia menuturkan bahwa hidup kita hari ini adalah soal kita dan “layar”—interaksi antara kita dan teknologi atau gadget.

Interaksi yang intens dengan gadget telah memicu otak menciptakan distraksi berlebihan sehingga membuat kita sulit fokus. Kondisi ini membuat manusia modern mudah larut dalam dekapan digital yang melenakan.

Untuk itu di bawah ini akan dipaparkan cara agar kita dapat menjaga jarak dengan teknologi dan dapat memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan kita. Bukan malah candu, hingga tidak dapat mengendalikan diri dari distraksi digital yang berlebihan.

  1. Menjadwalkan semua aktivitas kita

Sebagai permulaan membuat jadwal, kita bisa mengisinya dengan kegiatan rutin kita seperti membaca buku, bersih-bersih, kelas atau kerja, hingga waktu makan dan tidur. Tentu jadwal yang dibuat menyesuaikan dengan kewajiban harian kita serta tujuan-tujuan tertentu yang ingin kita capai.

Kemudian dapat ditambahkan agenda lain seperti rapat virtual, membeli kebutuhan, atau aktivitas kondisional lain agar tidak lupa. Penjadwalan ini membantu kita menjalani hari dengan maksimal dan mengondisikan diri selalu sadar tentang aktivitas yang dilakukan. Karena setiap waktu telah kita alokasikan secara presisi dalam list kegiatan harian.

Setelah jadwal telah tersusun, tinggal kita mendisiplinkan diri mematuhi jadwal yang telah dibuat. Lakukan secara bertahap dari satu-dua aktivitas yang dilaksanakan kontinu sesuai jadwal, hingga semua jadwal terlaksana dengan baik.

  1. Melakukan evaluasi dan perencanaan secara berkala

Evaluasi dilakukan untuk melihat kembali efektivitas jadwal yang telah dibuat. Lebih detail kita juga bisa melakukan evaluasi terhadap jenis kegiatan, cara melakukannya, hingga jam yang ditetapkan.

Dalam evaluasi pertanyaan semacam apakah kegiatan ini memang penting untuk dijadwalkan? Sudah efektifkah kegiatan ini dilakukan? Bagaimana progresnya? Apa goal “tujuan” selanjutnya? Akan mewarnai dan terkadang membuat sedikit pusing. Untuk itu berdiskusi dengan teman, orang tua, atau mencari informasi di internet berguna sebagai masukan agar mendapat cara, trik, dan jawaban atas segala kebingungan dalam proses evaluasi.

Momen ini juga dapat diisi dengan merefleksikan apa pun tentang semua aktivitas kita, tidak terbatas pada jadwal. Sikap, tindakan, bahkan kesalahan-kesalahan yang kita buat selama aktivitas, juga dapat menjadi bahan evaluasi. Dari proses ini akan muncul catatan-catatan perbaikan yang perlu dipertimbangkan serta direncanakan ke depan.

Evaluasi juga dapat digunakan untuk menerapkan penghargaan dan hukuman, yaitu  dengan memberi hadiah pada diri atas pencapaian dan menghukum jika melanggar komitmen yang telah ditentukan.

  1. Perencanaan dalam merealisasikan catatan

Pada bagian ini kita akan merombak jadwal, memulai rutinitas baru, atau hanya sekedar menggeser waktunya. Perencanaan juga berperan memaksimalkan waktu yang masih kosong untuk diisi kegiatan agar lebih maksimal. Walau tentu porsi waktu untuk aktivitas jeda perlu dipertimbangkan. lebih lanjut akan diulas pada aktivitas jeda.

Momen ini juga penting untuk merencanakan perbaikan watak, sikap, dan kesalahan-kesalahan kita selama beraktivitas, seperti mengontrol emosi saat berselisih dengan teman, memperbaiki kemampuan presentasi, dan strategi mengantisipasi nerves di saat-saat genting.

Terlepas besar-kecilnya perubahan yang terjadi, komitmen adalah kunci yang tepat agar penjadwalan, evaluasi, dan perencanaan perbaikannya dapat efektif.

Cara agar berkomitmen dengan Jadwal yang telah dibuat

Pertama, yang perlu diperhatikan adalah memulai dengan tidak memaksakan. Untuk itu, perlu proses adaptasi yang perlahan agar penjadwalan yang dilakukan dapat membentuk pembiasaan diri secara nyaman. Hal ini dapat dilakukan dengan memulai menjadwalkan aktivitas rutin terlebih dahulu seperti jadwal tidur (terdiri dari jam tidur dan jam bangun).

Selanjutnya ditambahkan jadwal makan, mandi, serta kerja atau belajar. Harapannya aktivitas rutin ini dapat disiplin sesuai jadwal. Setelah terbentuk pembiasaan dalam diri untuk beraktivitas sesuai jadwal barulah aktivitas seperti membaca buku, bermain hp, belajar bahasa dan aktivitas lainnya dijadwal secara bertahap.

Penambahan aktivitas dapat dilakukan sehingga dirasa waktu harian telah digunakan secara maksimal tanpa mengabaikan waktu istirahat.

Adaptasi ini peting karena pembiasaan yang terlalu memaksakan akan membuat diri kita tidak nyaman dan akhirnya menjadikan kita gagal mempertahankan penjadwalan secara berkelanjutan.

Kedua, fokus. Manusia adalah makhluk yang sebenarnya tidak bisa multitasking atau mudahnya fokus melaksanakan kegiatan dalam satu waktu. Kemampuan manusia adalah memindah dari satu fokus ke fokus lainnya secara cepat sehingga terkesan mampu multitasking.

Memang multi-tasking akan menghemat waktu namun banyak juga kekurangannya, yaitu cepat lelah, tidak maksimal dalam mengerjakan masing-masing aktivitas, dan mengurangi kemampuan fokus secara berkala yang membuat kita semakin sulit fokus.

Lebih baik memilih untuk menjeda sebentar aktivitas yang sedang dikerjakan dengan merespons dan menuntaskan sebelum kembali ke aktivitas semula. Daripada menjalankan kedua aktivitas secara bersamaan, jika tidak harus dilakukan segera, lebih baik menuntaskan satu persatu dan respons dikerjakan setelah aktivitas selesai. Sikap seperti ini memang perlu dilatih, sehingga terbiasa.

Selanjutnya adalah persiapan. Persiapan yang dimaksud adalah segala hal yang dilakukan untuk mempersiapkan sebelum memulai aktivitas dan menjadi transisi dari aktivitas sebelumnya.

Contoh sederhananya, semisal kita akan belajar atau bekerja maka persiapan yang dilakukan adalah menyiapkan semua alat yang dibutuhkan seperti laptop, mengecek jaringan, buku, dan lain  sebagainya. Selanjutnya adalah meminimalkan gangguan seperti mematikan suara notifikasi ponsel sementara dan meletakkan ponsel di luar jangkauan agar tidak mengganggu fokus, memilih tempat yang aman dan nyaman dari gangguan sekitar.

Penggunaan gadget dan jaringan disesuaikan dengan kebutuhan. Jika memang aktivitas kita membutuhkan itu maka kita dapat menggunakannya. Tetapi jika aktivitas kita tidak membutuhkan hal itu maka jauhkan dari jangkauan. Kita juga dapat mematikan notifikasi yang tidak penting dan berpotensi mengganggu.

Terakhir adalah istirahat. Ini diperlukan jika aktivitas yang dilakukan memiliki durasi yang panjang seperti bekerja. Di saat pandemi ini aktivitas pekerjaan membuat kita semakin fleksibel memilih waktu tetapi kadang kita hanya mengejar agar pekerjaan segera selesai. Sebagai korbannya, kita memaksa tubuh untuk segera melaksanakan tugas agar cepat selesai. Kata yang mencerminkan kebiasaan ini “nanggung ah”.

Padahal kita juga harus memperhatikan durasi sehingga kita bisa menentukan kapan saatnya kita istirahat. Tidak perlu waktu lama, hanya beberapa menit, cukup peregangan ringan, mengalihkan pandangan mata dari layar dan meminum air putih. Aktivitas sederhana ini membuat kita lebih bugar dan siap melaksanakan tugas-tugas selanjutnya.

Semua pemaparan ini membuat kita dapat menjadi manusia seutuhnya dengan kemampuan memilah benefit digital yang sejalan dengan tujuan hidup. Tidak malah hanyut distraksi digital yang melenakan.

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals