Saksi-Saksi Yehuwa: Relasi Kuasa dan Diskriminasi di Internal Agama Kristen

Selain berhadapan dengan negara, denominasi ini juga tidak jarang harus berhadapan dengan sesama umat Kristen karena dianggap menyimpang dari ajaran kekristenan


Foto: Balai Kerajaan SSY di Bandung (jw.org)

Saksi-Saksi Yehuwa yang kemudian biasa disingkat SSY muncul sekitar tahun 1872 setelah pendirinya yaitu Charles Taze Russell merasa telah mendapat wahyu untuk memurnikan ajaran Kristen lewat tafsirnya yang telah dilegitimasi oleh Tuhan Yehuwa.

Setelah itu, Russell kemudian tergerak untuk membuat kelompok belajar Alkitab yang ia pimpin sendiri. Dalam perjalanannya, ia memperluas pengabaran dengan menerbitkan majalah Zion’s Watch Tower and Herald of Christ’s Presence pada pertengahan tahun 1879. Selanjutnya, pendirian lembaga pada tahun 1884 dengan nama Watch Tower Bible and Tract Society.

Sepeninggal Russel kemudian digantikan oleh koleganya yaitu Rutherford yang membawa banyak perkembangan hingga pada 1931 nama gerakan ini dibakukan menjadi Saksi-Saksi Yehuwa (Ismail, Jurnal Analisa, 19, no. 1, Juli-Desember 2012: 177-178).

Dalam konteks Indonesia, SSY muncul pada tahun 1931 tepatnya di Batavia yang sekarang bernama Jakarta. Ajaran itu dibawa seorang misionaris asal Australia Frank Rice (A. Karim dan Asnawati, dalam Wakhid Sugiyarto (ed.), 2010: 271). Pada tahun 1976 denominasi ini sempat dilarang dan akhirnya pelarangan itu dicabut oleh Kejaksaan Agung pada 1 Juni 2001. Keputusan itu diikuti dengan pengesahan dari Bimas Agama Kristen Kementerian Agama nomor No. F/KEP/HK.005-/22/1103/2002 tertanggal 22 Maret 2002 (Ismail, Jurnal Analisa, 19, no. 1, Juli-Desember 2012: 178-179).

Selain pernah berhadapan dengan negara, denominasi ini juga tidak jarang harus berhadapan dengan sesama penganut agama Kristen karena dianggap menyimpang dari ajaran kekristenan. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Romo Franz Magnis Suseno yang menyampaikan data bahwa 98% dari gereja dan denominasi agama Kristen arus utama menganggap denominasi SSY telah keluar dari ajaran agama Kristen karena mengingkari ketuhanan Yesus (Franz Magnis Suseno, Majalah The Wahid Institute: Nawala, no. 11, th. IV, November 2009 – Februari 2010: 2).

Baca juga: Kunjungan ke Gereja: Pengamalan Surah al-Hujurat: 13

Hal ini berimplikasi memunculkan perdebatan antara denominasi Kristen arus utama dengan denominasi SSY. Dan, isu ini menjadi alasan pelabelan sesat pada denominasi SSY. Dalam tulisan ini akan disajikan data dari penelitian terdahulu tentang perdebatan dan perebutan label otoritatif penafsiran teologi serta kasus diskriminasi yang terjadi antara Kristen arus utama dengan denominasi SSY.

Dalam konsep ketuhanan yang ternaturalisasi dalam Kristen arus utama, mereka mengenal tentang kehadiran Tuhan sebagai tiga entitas yang berbeda namun menyatu. Pertama, Allah sebagai dzat yang esensial yang disebut sebagai Tuhan Bapa (wujud), kemudian kedua, Allah yang termanifestasi dalam bentuk materi yang disebut Yesus (hayat) dan yang ketiga adalah Allah dalam kekuasaan dan sifatnya yang disebut sebagai roh kudus (aql) (Dahlia, Jurnal Penelitian, 11, no. 2, Agustus 2017: 314).

Sedangkan SSY memiliki pandangan yang berbeda. Menurut SSY, yang disebut Tuhan adalah Yahuwa atau Allah sebagai dzat yang esensial (Yehuwa, Majalah Menara Pengawal, 2006: 12). Adapun Yesus, merupakan makhluk ciptaan Yahuwa dan bukan berposisi sebagai Tuhan.

Pandangan bahwa Yesus itu adalah Tuhan terbentuk karena atas penafsiran dari bunyi ayat “Pada Mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” [Yohanes 1:1]. Kemudian bunyi ayat “Firman itu adalah Yesus” [Yohanes 1:14] menerangkan tentang maksud dari kata Firman yang ada di Yohanes 1:1 adalah Yesus. Kata “[Firman=Yesus] itu adalah Allah” oleh penganut Kristen arus utama dimaknai secara tekstual menjadi Yesus adalah Tuhan sebagaimana penjelasan dua ayat di atas.

Sedangkan menurut denominasi SSY, yang memiliki pandangan, bahwa makna dari kata “[Firman=Yesus] itu adalah Allah” merupakan sebuah penyifatan akan tingginya derajat Yesus dibanding manusia biasa dan pembenaran oleh Allah atau Yehuwa atas berita kebenaran yang dibawa oleh Yesus (Yehuwa, 2016: 201-204).

Baca juga: Isa a.s. antara Nabi dan Tuhan di Mata Umat Beragama yang Berbeda

Dalam konteks ilmu Sosiologi Agama tentu perdebatan ini tidak dibawa ke ranah dogmatis. Namun dikupas dalam kerangka relasi sosial yang dalam hal ini berfokus pada relasi kuasa yang terjadi sebagai imbas konstruksi pengetahuan tentang konsep ketuhanan yang berbeda antara denominasi Kristen arus utama dengan denominasi SSY.

Menurut Michel Foucault, pengetahuan memiliki hubungan erat dengan kekuasaan. Karena pengetahuan akan melegitimasi kebenaran dan menyingkirkan yang dianggap salah. Kondisi itu membuat pihak yang dianggap benar memiliki kekuasaan. Bahkan kewenangan dalam menghukum pihak yang dianggap salah.

Dalam proses pembentukan pengetahuan ada yang namanya naturalisasi sebagai sebuah pembentukan standar moral. Standar moral ini akan menjadi batasan apakah individu atau kelompok dianggap benar atau salah (Sultriana dan Mustahyun, Jurnal Palita, 02, no. 02,  Oktober 2017: 98-100).

Dalam konteks agama Kristen, denominasi arus utama akan menaturalisasi trinitas dengan mudah karena jumlah pengikutnya yang banyak. Kondisi ini membuat diskriminasi dari internal Kristen bermunculan seperti yang terjadi di Kota Batu. Pada saat itu sedang terselenggara Musyawarah Daerah antar Gereja tingkat Jawa Timur. Dalam kesempatan itu, gereja-gereja meminta agar denominasi SSY untuk tidak dimasukkan ke dalam Gereja Kristen (Umi Sumbulah dan Nurjanah, 2013: 158). Kemudian di Balikpapan denominasi ini juga mendapat penolakan dari Kristen Arus Utama sehingga tidak dimasukkan ke dalam organisasi Gereja-Gereja di Balikpapan. (Saprilah dan Sabara, 2018: 12).

Di Yogyakarta juga terjadi penolakan dari beberapa warga Kristen ketika denominasi ini mau mendirikan tempat ibadah di Baciro. Walaupun surat izin telah keluar, namun terjadi penolakan sehingga Balai Kerajaan Saksi Yehuwa batal didirikan (Saidah, Skripsi, 2015: 84-85).

Uraian di atas hanyalah salah satu contoh diskriminasi intra agama yang terjadi di antara beberapa kasus diskriminasi intra maupun ekstra agama di Indonesia. Untuk itu perlu ditekankan bahwa realitas majemuk yang terjadi di Indonesia sudah seharusnya dibarengi dengan sikap moderasi dalam beragama yang salah satunya dapat diaplikasikan dengan adanya dialog dan pertemuan intra maupun ekstra agama sehingga antar agama dan antar denominasi, fiqroh atau aliran dalam intra agama tidak terjadi konflik dan diskriminasi. Terlebih dapat menyelesaikan konflik yang terjadi serta menata kehidupan ekstra dan intra agama yang harmonis. []

_ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannyadi sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals