Kiaiku adalah Seorang Pengusaha : Upaya Menyiasati Keuangan Pondok Pesantren

Yai Baqir : "Uang operasional dan pembangunan pesantren harus halal dan jelas asal-muasalnya".


Tulisan singkat ini akan menguraikan seorang tokoh bernama Kiai Haji Mohammad Baqir Adelan. Penulis sebenarnya tidak memiliki kapasitas untuk bercerita panjang lebar tentang beliau, mengingat beliau wafat ketika penulis masih berusia belia tepatnya 7 tahunan.

Namun sejak kecil memang penulis telah banyak berinteraksi dengan beliau sebagai guru dari ayah penulis. Bahkan nama penulis adalah pemberian dari beliau. Ingatan semasa kecil tentang interaksi dengan beliau yang masih terngiang dalam benak adalah ketika momentum hari raya idul fitri 2005 pada saat itu sekitar tanggal 3 Syawal.

Ayah penulis mengajak keluarga untuk Kluputan ke kediaman beliau. Pada saat itu penulis yang masih kecil ngiler dengan permen semacam lolipop yang berada di depan beliau dan berseberangan dari penulis.

Pada saat itu penulis hanya menggumam dalam hati dan sungkan untuk mengucapkannya. Tapi tak lama kemudian beliau mengambil toples permen tersebut dan beranjak dari duduknya menghampiri penulis dan menawarkan permen tersebut. Penulis pun dengan malu-malu mengambil permen itu.

Pengalaman itu menjadi perjumpaan yang berkesan karena pada bulan Mei 2006 beliau kemudian wafat. Cerita tentang beliau banyak penulis dapatkan dari ayah dan guru-guru sewaktu bersekolah dan mencicipi mondok di yayasan beliau saat menempuh jenjang pendidikan MTs dan MA.

Baca juga: Pesantren Sebagai Meeting Point

Kiai Haji Mohammad Baqir Adlan dilahirkan pada tanggal 30 Agustus 1934 di Desa Kranji, Paciran, Lamongan, Jawa Timur. Beliau adalah Putra ke-6 dari pasangan K.H. Adlan bin Abdul Qodir dan Nyai Hj. Sofiyah.

Sebagai anak yang terlahir di lingkungan pondok pesantren, beliau sejak masa kecil telah dibiasakan untuk mengenyam pendidikan agama yang diampu oleh keluarga sendiri.

Pengembaraan ilmu yang beliau jalani mengantarkan kematangan intelektual serta perjumpaan dengan beberapa ulama masyhur. Beliau sempat mengaji langsung dari Kiai Amin yang merupakan paman beliau dan seorang pahlawan nasional, K.H. Bisyri Syansuri, dan K.H. Wahab Hasbullah.

Pada tahun 1976, abah  beliau K.H. Adlan berpulang yang kemudian membuat beliau didapuk untuk meneruskan abahnya menjadi pengasuh ke empat (1976-2006[Wafat]) Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Lamongan. Sebelum pulang, beliau telah berkiprah untuk menjadi pengajar sekaligus pendakwah di Jombang.

Hal itu membuat beliau tidak lagi diragukan kapasitasnya untuk menggantikan abahnya. Selama kepemimpinannya, Yai Baqir telah membuat banyak perubahan.

Perubahan tersebut meliputi perbaikan sistem pengajaran yang dilakukan di Pesantren Kranji, pendirian beberapa unit pendidikan mulai jenjang taman bermain hingga perguruan tinggi, serta pembangunan fisik dan perluasan wilayah guna menunjang terlaksananya pembelajaran.

Sejak kecil, Yai Baqir telah memiliki jiwa pengusaha yang dibuktikan dengan berjualan makanan ringan di depan asrama santri. Beliau menjalankan rutinitas tersebut tanpa rasa canggung, walaupun beliau adalah putra pengasuh pesantren.

Jiwa wirausaha kembali beliau tempa ketika mondok di Denanyar, beliau berjualan gabah yang modal awalnya diambil dari ongkos yang diberi oleh orang tua beliau untuk berangkat mondok.

Berkat keuletannya, beliau kemudian berkembang jualan tembakau linting yang beliau jalankan bersama kakaknya dan beliau cap Sapu Tangan. Berkat usaha yang beliau jalankan, orang tuanya tidak lagi kerepotan untuk ngirim uang selama mondok di Jombang.

Konon orang tua beliau hanya memberikan sangu ketika awal berangkat dan kemudian hari-hari selanjutnya hingga beliau pulang kembali ke Kranji untuk membantu abahnya mengelola pesantren, semua biaya kehidupan beliau mencari sendiri.

Setelah pulang pada tahun 1958, karena dipanggil abahnya untuk membantu mengurus pondok. Hari-hari beliau dihabiskan untuk fokus beraktivitas di Pondok Kranji dan juga berkiprah di masyarakat dan juga mengurusi Nahdlatul Ulama.

Setelah enam tahun lamanya di rumah, pada tahun 1964 beliau dipinang untuk menikah dengan putri dari pamannya sendiri yang bernama Nyai Hj. Aminah.

Sebagai bapak rumah tangga, beliau kembali berpikir untuk membangun usaha guna menafkahi keluarga. Akhirnya beliau mendapat modal dari mertua dan mendirikan UD. Barokah Sejati. Usaha tersebut bergerak dalam bidang jual beli kayu, meubel dan galangan kapal nelayan.

Awalnya usaha yang beliau rintis dikerjakan di halaman pondok, mengingat halaman pondok yang luas, sehingga dapat menampung banyak kayu gelondongan untuk diolah maupun dijual kembali. Serta cukup untuk dibuat galangan kapal nelayan ukuran kecil dan sedang.

Pegawai yang beliau pekerjakan meliputi santri dan masyarakat sekitar. Usaha yang beliau jalankan amat berkembang sehingga tidak hanya mampu membiayai keluarga, namun juga dapat menjadi penyokong pembangunan serta operasional pondok.

Tak heran, jika fasilitas pondok berkembang pesat. Seiring kemajuan usaha tersebut dan pondok yang juga semakin berkembang, beliau kemudian membeli tanah di luar pondok untuk menjadi tempat usahanya.

Kemudian beliau memboyong usaha yang awalnya di dalam pondok menjadi di luar pondok. Berkat usaha yang beliau jalankan, menjadikan relasi pertemanan beliau sangat luas dan dapat mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar terutama berkat galangan kapal.

Kedekatan ini mendobrak sekat antara pondok dan masyarakat sekitar yang notabene adalah masyarakat pesisir dengan klasifikasi abangan.

Ditambah, Yai Baqir adalah Kiai yang toleran dan mau beradaptasi secara perlahan dalam melakukan dakwahnya, sehingga banyak simpati yang didapatkan dari masyarakat sekitar. Menurut penuturan dari ustadz senior, Yai Baqir tidak menerima sumbangan dari pihak luar untuk urusan pembangunan pesantren.

Apalagi membuat proposal ke pemerintah atau pengusaha. Kemandirian yang ditanamkan oleh Yai Baqir membuat pondok dapat berjalan dengan baik dan tidak bergantung oleh pihak manapun.

Ini juga membuat tidak ada intervensi dalam pengelolaan pondok. Lebih-lebih, sebagai seorang yang wara’ beliau berkeyakinan bahwa dalam membangun pondok, harus dipastikan bahwa uang operasional dan pembangunan harus halal dan jelas juntrungan-nya.

Karena jika tercampur dengan uang yang tidak jelas asal-muasalnya, dikhawatirkan dalam proses membangun pondok menjadi “tidak berkah”. Komitmen tersebut adalah suatu bentuk kehati-hatian–bukan merupakan sikap suudhon–yang  dilakukan oleh Yai Baqir sebagai seorang yang memiliki pemahaman keagamaan secara mendalam.

Hal-hal seperti ini amat diperhitungkan di kalangan pondok pesantren, yang akhirnya membuat pondok memiliki spirit dan soul yang kuat untuk mempengaruhi proses pembelajaran agar lebih “berkah”. Atau bahasa lebih mudahnya ada poin plus yang akan didapatkan jika tempat, guru, dan diri seorang pencari ilmu dikondisikan dengan baik.

Jiwa kewirausahaan yang dimiliki oleh Yai Baqir, kemudian diturunkan ke putra-putri beliau, termasuk pemangku Pondok Kranji yang sekarang, yaitu Buya K.H. Nasrullah Baqir. Beliau dan saudara-saudaranya mengelola beberapa unit usaha di samping aktivitas utamanya sebagai seorang pengajar.

Baca juga: Benalu Proposal di Lingkungan Pesantren

Unit usaha yang beliau jalankan meliputi perkebunan jagung, ayam petelur, tambak udang fanami, dan meubel.

Semua unit usaha ini dijalankan sebagai sumber kebutuhan dari keluarga ndalem Pondok Kranji. Selain itu, beberapa persen dari keuntungan masuk untuk membantu operasional pondok terutama pembangunan yang semakin hari semakin masif. Mengingat kebutuhan lembaga pendidikan yang kian hari, kian kompleks guna menunjang aktivitas para santri.

Jiwa kewirausahaan seperti ini penting untuk ditanamkan, agar sebagai seorang individu dapat hidup mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Menjadi pegawai atau buruh sekalipun, terkadang membuat orang terhambat dari kemandirian dan kebebasan.

Bayang-bayang intervensi selalu ada dan mengintai, karena ada peraturan yang mengikat. Terlebih menjadi seorang pengajar dan pelayan masyarakat, perlu dipenuhi terlebih dahulu kebutuhan dasar kehidupannya dan keluarga.

Agar dalam melakukan pengajaran dan pengabdian dapat dilakukan dengan penuh ketulusan dan ketenangan. Karena tidak ada tanggungan yang memecah konsentrasi. Lebih-lebih, orientasi dalam pembelajaran dan pengabdian masyarakat dapat bergeser ke arah material.

Sebenarnya sah saja, namun akan mengurangi semangat, keseriusan dan kesepenuh hatian dalam berbagi ilmu dan melakukan pengabdian ke masyarakat. Kondisi ini akan berpengaruh pada hasil dari apa yang telah dikerjakan.

Begitulah pelajaran yang didapatkan dari guru-guru terdahulu, walaupun terkadang seorang pengajar termasuk kiai, ustadz, dan guru juga mendapatkan sedekah dari wali santrinya dan masyarakat.

Namun semua itu tidak menjadikan pengajar memiliki alasan untuk tidak berusaha dan mencari nafkah, sehingga para ustadz dan kiai adalah orang yang masih lumrah untuk kita jumpai di pasar, sawah dan tempat-tempat lainnya. Karena mereka juga mencari rezeki dengan usaha mereka sendiri.

Referensi

M. Zaid Su’di, dkk., “Sejarah Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah Kranji Paciran Lamongan”, (Penelitian Alumni Pondok Kranji di Yogyakarta, 2015).

Cerita dari Ayah penulis dan para asatidz Pesantren Kranji.

Editor : Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals