Kiai: Agamawan, Priyai, dan Elit Politik

Walaupun dapat dilihat hari ini kiai tidak bisa mengendalikan secara penuh pranata sosial, namun kiai sebagai agamawan, priayi, dan elit politik masih punya pengaruh


Sumber Gambar: ansorjepara.or.id

Kiai merupakan sosok yang sentral dalam tradisi masyarakat Indonesia. Dapat dilacak dari masa kerajaan peran agamawan menempati posisi yang strategis baik sebagai penasihat raja maupun penanggung jawab agama masyarakat. Beranjak setelah itu, ketika era kerajaan Islam, ulama—sebagai penyebutan lebih umum dari kiai—menempati posisi sebagai wazir yang memastikan masyarakat menjalankan sistem tatanan masyarakat yang berlandaskan ajaran Islam.

Di fase ini kiai telah masuk ke tataran sosial kemasyarakatan dan memiliki andil besar dalam membentuk sistem pranata sosial dalam melegitimasi kekuasaan.

Hal itu didukung oleh Islam sebagai agama yang mengatur secara komprehensif perilaku keseharian individu yang menyangkut hubungan dengan Tuhan dalam aspek ibadah dan hubungan sosial kemasyarakatan dalam aspek muamalah.

Secara otomatis mendorong kiai untuk menempati posisi sentral dalam ruang sosial dan politik di masyarakat melalui fatwa yang kemudian diimplementasikan dalam masyarakat. Selain itu, relasi antara kiai sebagai guru agama dan masyarakat sebagai umat yang menjadi basis masanya.

Baca Juga: Mari Berkenalan Dengan Istilah Ustaz, Kiai dan Ulama

Selain menjadi penguasa lokal dalam masyarakat, terutama dalam lingkup pedesaan. Kiai umumnya memiliki teritorial khusus bernama pesantren yang dibangun sebagai basis aktivitas pendidikan Islam sekaligus merekrut para pengikutnya yang biasa disebut dengan istilah santri. Sebagai pengecualian, bagi sebagian kiai yang tidak memiliki pesantren, mereka biasanya menggunakan langgar (surau) sebagai basis pengajaran dan tempat berinteraksi dengan para umatnya.

Di era perjuangan kemerdekaan, kiai memiliki peran yang sentral dalam mendorong tercapainya cita-cita mulia tersebut. Kondisi ini didukung dengan posisi kiai yang memungkinkan melakukan komunikasi dengan berbagai pesantren guna menggalang kekuatan selain tentunya para umat setia yang senantiasa berada di sekeliling kiai.

Hal ini membuat kiai memiliki posisi tawar di masa kolonial, sehingga wajar jika kiai diberi wewenang untuk membantu kolonial mengkomunikasikan beberapa kebijakan strategis. Alhasil kiai menempati kelas tengah bersama para priayi dan para orang etnis asing. Di bawah para penguasa dan di atas para rakyat. Hal ini dapat dilihat dari kebebasan para kiai dengan pesantren yang dipimpinnya untuk membayar pajak dan dalam beberapa kesempatan diajak memobilisasi masa guna terealisasinya program penguasa.

Terlepas dari hal itu, kiai sebagai penguasa lokal memiliki jejaring antar pesantren. hal ini tentu membuat adanya koneksi antar penguasa lokal dari kalangan elit agama. Jejaring ini umumnya terbangun dari proses pendidikan serta perkawinan. Dari proses pendidikan, jejaring pesantren dibangun dari para alumni pesantren yang telah lulus dan mendirikan pesantren-pesantren kecil maupun yang menjadi guru mengaji di surau desanya. Pesantren-pesantren kecil dan surau-surau ini menjadi kolega yang memberikan informasi kepada pesantren yang lebih besar selain juga menjadi corong penyebaran ide ke masyarakat umum.

Sedangkan dari proses perkawinan, pesantren cenderung menjodohkan anak kiai dengan anak kiai lainnya sehingga membentuk, ikatan kekeluargaan sebagai legitimasi serta jejaring dalam kaitan berbagai informasi dan penyebaran gagasan. Dari kedua proses di atas terbentuk hierarki pesantren berdasar besaran pengaruh dan jejaring yang luas. Umumnya pesantren sentral adalah pesantren yang memiliki kiai cemerlang baik dalam sisi keilmuan maupun menempatkan diri dalam ruang sosial. Hal ini memberikan pengaruh berupa luasnya persebaran asal daerah santri dan terkoneksinya dengan pesantren sentral lain untuk kemudian diperkuat dengan hubungan kekeluargaan dalam perkawinan.

Modal yang dimiliki kiai dengan jejaring serta umatnya tersebut dimanfaatkan untuk mengatur pranata sosial masyarakat. Hal ini penting dilakukan untuk menciptakan masyarakat yang ideal dalam frame keislaman—cenderung ke Islam tradisional—dan menjaga legitimasi kiai sebagai penguasa lokal. Salah satu contoh konkretnya adalah jejaring kiai sebagai media mengkomunikasikan spirit melawan penjajah yang terbukti memicu pemberontakan di berbagai daerah.

Baca Juga: Toleransi dan Pendidikan Moderat dalam Keluarga Kiai

Selain itu, peran kiai juga tampak dalam menjaga Islam tradisional—Islam yang membaur dengan kearifan lokal—dari arus modernisme Islam yang membawa spirit puritanisme. Spirit puritanisme Islam ini dibawa oleh arus Islam perkotaan yang mula-mula diperkenalkan oleh Muhammadiyah. Serta menjaga masyarakat Islam dari paparan ideologi komunisme.

Di tataran kampung, para kiai acap kali bekerja sama dengan para haji yang umumnya merupakan kiai dan tuan tanah. Haji memiliki posisi sentral dalam masyarakat karena terdapat kepercayaan bahwa orang yang pulang dari tanah suci merupakan orang yang mulia dengan kedalaman spiritual sehingga secara sosial mendapat posisi yang strategis dalam masyarakat. Selain itu, haji sebagai tuan tanah juga akan memberi pekerjaan kepada masyarakat sebagai penggarap yang tentu memberikan keuntungan ekonomi.

Haji memang berkelindan dengan status sosial dalam masyarakat. Hal ini kerap dimanfaatkan oleh kiai untuk melegitimasi status sosialnya untuk lebih kokoh. Di samping itu, para kiai memiliki orientasi berupa pengembangan keilmuan berupa kegiatan belajar mendalami Islam saat melaksanakan ibadah haji lewat mengikuti beberapa forum kajian di kota dari ulama Timur Tengah maupun Nusantara yang menetap di sana. Kegiatan ini tentu memberikan legitimasi keilmuan bagi para kiai karena telah merasa belajar Islam dari sumber lahirnya Islam.

Kesempatan menimba ilmu di tanah suci ini juga dimanfaatkan untuk menanyakan problem-problem masyarakat dari daerah asal yang kemudian dicarikan solusi dari para imam di sana. Hal ini tentu memberikan pertukaran informasi serta jejaring karena terdapat para kiai dari berbagai daerah yang kumpul di sana dengan membawa problem di daerahnya masing-masing sehingga wajar jika para kiai yang melaksanakan ibadah haji dapat menghabiskan waktu yang panjang di sana.

Kiai rela melakukan hal tersebut guna meng-update pengetahuan agar sepulang dari tanah suci ia mendapat tambahan wawasan untuk menjawab persoalan-persoalan umat. Kiai juga mendapat wawasan yang berarti dari proses berhaji hingga sepulang dari tanah suci terbesit ide untuk melakukan gerakan sosial dan perubahan sosial di daerahnya masing-masing.

Tetapi tentu kiai masih memiliki keterbatasan dalam menyelesaikan problem umat, baik di internal umat maupun pengaruh dari luar. Jejaring antar kiai juga masih bersifat kultural dan jejaring antar pesantren juga belum terkoneksi secara utuh.

Kejenuhan itu akhirnya menemukan puncaknya hingga kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama yang biasa dikenal masyarakat sebagai NU. Berdirinya NU membawa spirit baru bagi para kiai karena mereka memiliki platform yang melingkupi pergerakan kiai dan mempermuda koordinasi serta konsolidasi antar pesantren. Serta tentunya menjembatani terkoneksinya antar jejaring pesantren yang dulu sebatas regional naik ke skala nasional. Sebuah kemajuan yang berarti bagi pesantren.

Alur koordinasi dapat dilakukan secara efektif karena terdapat saluran struktural yang menjembatani komunikasi, konsolidasi, dan saluran informasi. Proses yang panjang itu membuat kita sadar bahwa posisi prestisius kiai tidak digapai secara tiba-tiba namun terdapat proses laten yang dijaga oleh para kiai serta pembaruan-pembaruan untuk meningkatkan guna memperkukuh kedudukannya.

Walaupun dapat dilihat hari ini kiai tidak bisa mengendalikan secara penuh—akibat dari globalisasi dan kemajuan teknologi informasi yang memudahkan pertukaran informasi sehingga masyarakat secara sosial maupun personal mampu berkembang secara mandiri—pranata sosial, namun kiai sebagai agamawan, priayi, dan elit politik masih punya pengaruh. Setidaknya bagi kalangan masyarakat pesantren. di era ini beberapa kiai juga sudah mulai adaptif dengan perkembangan zaman sehingga memanfaatkan media untuk mempertahan tahankan fungsinya—di tataran agama dan sosial—dalam masyarakat.

Wallahualam bisawab.

Sumber Bacaan

Dhofier, Zamakhsyari. 2011. Tradisi Pesantren Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Jakarta: LP3ES.

Dirdjosanjoto, Pradjarta.2013. Memelihara Umat: Kiai Pesantren, Kiai Langgar di Jawa. Yogyakarta: LKiS.

Yanto, Bashri. “Perjuangan Fase Kiai” beritasatu.com diakses pada 23 Mei 2021, jam 10.30.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals