Erdogan dan Refleksi Politik Identitas Islam

Pada kenyataannya, praktik politik identitas telah membuat perpecahan bangsa dan berdampak pada perpecahan di internal umat Islam sendiri.


Sumber foto: tempo.co

Mari melihat perkembangan Turki hari ini setelah tahun lalu dunia digegerkan oleh kebijakan Erdogan yang memilih untuk mendukung pengubahan status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid. Erdogan melihat, Hagia Sophia adalah properti dari Turki Ottoman setelah penaklukan yang dilakukan oleh Sultan Mehmed atas Konstantinopel.

Ia mengabaikan kalau bangunan bersejarah itu adalah bekas bangunan suci umat Kristen Ortodoks yang menjadi penanda kemajuan peradaban mereka waktu itu.

Tentu hal ini menyebabkan emosional masyarakat Islam di seluruh dunia tersentuh untuk ikut merasakan rasa senang dan bangga atas kebijakan tersebut. Seketika Turki pun menjadi pusat perhatian dunia. Di pihak Kristen Ortodok dan Yunani sebagai dua entitas yang juga merasa memiliki sejarah atas Hagia Sophia tentu terpukul dan kecewa atas kebijakan tersebut.

Tampaknya sikap Erdogan ini bias akan kepentingan membangun citra diri dalam dunia Islam sebagai pemimpin revolusioner yang berani merevisi spirit sekularisme Turki yang dipelopori Mustafa Kemal Ataturk.

Sekularisme penting dilakukan karena pendirian Turki sebagai negara-bangsa dan sekaligus membawa spirit sekularisme adalah sikap tegas yang membedakan Turki dari era sebelumnya yang berupa kerajaan Islam.

Bagi sebagian kalangan yang menganut revivalisme Islam tentu melihat peristiwa ini sebagai sebuah pencapaian penting. Karena Hagia Sophia sebagai properti yang menjadi saksi bisu peradaban Islam berhasil dikembalikan fungsinya—salah satu fungsinya tentu sebagai tempat ibadah, fungsi lain yang juga disandang adalah sebagai pusat kegiatan sosial-keagamaan seluruh warga kerajaan pada masa itu—sesuai di saat era peradaban Islam masih jaya tepatnya di era Turki Utsmani.

Baca juga: Hagia Sophia dan Serpihan Ingatan Peradaban Islam

Selain perubahan status terhadap Hagia Sophia, Erdogan juga melakukan perubahan status terhadap dua museum yang sebelumnya adalah masjid untuk dikembalikan fungsinya. Selain itu, terdapat gerakan membangun masjid di ruang publik serta pengalihan monumen sekularitas Turki menjadi puritanisme Islam.

Serangkaian peristiwa ini tentu tidak bisa dianggap sebagai sebuah kebijakan biasa, karena di dalam kebijakan tersebut mempengaruhi emosional kelompok tertentu yang memiliki basis massa besar.

Melihat hal tersebut terdapat potensi kepentingan dari Erdogan untuk membangun citra diri. Serta menjadikan emosional sekelompok orang—dalam konteks ini umat Islam—menjadi komoditas politik identitas.

Tidak bisa dipungkiri karena memang jejaring umat Islam secara kuantitas sangat besar dan tersebar di seluruh dunia. Sedangkan secara kualitas identitas keagamaan adalah salah satu identitas yang cukup kuat, mengingat agama adalah aspek yang penting bagi manusia.

Hal ini penting dilakukan mengingat Turki adalah negara di antara dua benua yaitu Eropa dan Asia dengan ditambah lagi permasalahan Turki yang kerap menerima para pengungsi dari negara muslim yang sedang berkonflik. Hal ini membuat negara-negara di benua Eropa mengecam karena akan memperbanyak gelombang pengungsi datang ke benua Eropa.

Selain itu, Turki adalah negara muslim di tengah negara-negara Eropa yang mayoritas beragama Kristen—walaupun Islam masih masuk sebagai agama terbesar ke dua di benua itu—sehingga penting membangun relasi dengan masyarakat muslim dunia guna memperkuat jejaring dalam politik internasional.

Perlu menjadi perhatian juga munculnya gerakan-gerakan puritanisme Islam yang gencar menonjolkan identitas keislaman dan eksklusivitas golongan akhir-akhir ini tampak menguat dengan kemudahan sosial media sebagai platform penyebaran informasi. Tren ini akan menjadi pupuk penyubur terhadap politik identitas Islam.

Gairah ini banyak dimanfaatkan oleh pemimpin di dunia Islam untuk berbondong-bondong mengambil simpati dari masyarakat guna menyukseskan kepentingan politiknya. Fenomena ini penting untuk menjadi perhatian, karena Islam hanya dipakai sebagai simbol untuk melegitimasi kepentingan-kepentingan yang terkadang tidak sejalan dengan spirit utama Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Pada kenyataannya, praktik politik identitas telah membuat perpecahan bangsa yang juga berdampak pada perpecahan di internal umat Islam sendiri. Padahal dengan persatuan umat Islam akan kuat dan mampu lebih produktif dalam melaksanakan berbagai perubahan positif di tengah masyarakat.

Dalam rangka menanggulangi penggunaan Islam sebagai komoditas politik identitas dibutuhkan kesadaran penuh akan potensi madharat yang akan ditimbulkan sehingga tidak mudah terpikat dengan gaya politik pemimpin yang menggunakan agama sebagai branding-nya. Kesadaran ini perlu dibangun agar menjadi pemahaman bersama.

Baca juga: Rekonstruksi Identitas: Pandai Menyikapi Politik

Mengingat permasalahan umat semakin kompleks, sehingga penting bagi kalangan agamawan untuk berfokus menyelesaikan permasalahan umat dengan program-program keumatan melalui lembaga-lembaga di bawah organisasi keislaman. Justru dengan begitu Islam dapat berkontribusi kongkret ke masyarakat dan berkontribusi bagi bangsanya masing-masing terutama di negara-negara dengan populasi Islam mayoritas.

Setelah selesai dalam mengonsolidasikan kekuatan internal, perlu juga menjalin kerja sama dengan pihak lain baik umat agama lain, lembaga sosial kemasyarakatan, maupun instansi pemerintah dan organisasi global.

Harapannya Islam dapat menjadi inspirator untuk mendukung kebersamaan dan gotong royong demi terciptanya kemaslahatan umat manusia di seluruh dunia. Ini adalah esensi dari spirit Islam sebagai agama yang salah satunya tertuang dalam beberapa dekade peradaban Islam di masa kejayaannya.

Akankah semangat politik identitas Islam akan melahirkan semangat untuk menghidupkan kembali Islam sebagai pusat peradaban atau hanya menghidupkan simbol-simbolnya saja? Jawaban konkretnya adalah tindakan kita bersama.

Editor: Sukma Wahyuni

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Mufarrih El Mubarok<span class="bp-verified-badge"></span>
Tim Redaksi Artikula.id | Kordinator Departemen Jaringan Sekolah dan Pondok Pesantren Pimpinan Anak Cabang IPNU Panceng Gresik.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals